Minggu, 10 Mei 2015

Doa Untukmu



Pergantian fajar dan  senja tak mampu aku kendalikan
Dentang lonceng malam ini tepat kau berusia dewasa
Rentang waktu terkadang membuat kita sadar
Bahwa kita manusia yang tak punya apa-apa
Selain jasad yang tidak berguna
Mengiringi pertambahan usiamu
Tidak dengan serangkai bunga
Tidak juga dengan sebait puisi yang ditulis penyair ternama penuh puja dan puji
Ataupun dengan barang selangit harganya
Ku kan sematkan kata terindah penuh makna
Yang telah kubungkus rapi bersemayang dalam qolbu-ku
Dariku untukmu
Bismillahhirrohmannirrohiim..
Semoga Allah memberimu kesabaran hingga kau mampu berdiri sendiri ketika terjatuh
Terus bersemangat meski dengan 1 kaki sekalipun
semoga Allah mampu menurunkan malaikat yang mampu menjagamu
Agar setiap satu langkah di hidupmu merasa tenang
Walaupun ribuan godaan kau hadapi
Semoga Allah memberikanmu kesehatan dan kebahagiaan
Hingga kau mampu menjadi warna di kehidupan sekitarmu
Dan ku berdoa semoga engkau senantiasa mencintai Allah
melebihi kasih sayangmu kepada siapapun
Mentauladani rasulmu Muhammad
Agar kelak kau mampu mengajak umatmu kesyurga bersama
Ini kupersembahkan pada mu
Kado terindah dalam hidupmu J

Sabtu, 07 Maret 2015

KARENA UKHUWAH ITU CINTA





Senja mulai pergi menjemput malam, langit di ujung cakrawala kini tak lagi membiru. perlahan berubah menjadi warna jingga yang membuat mata tak mampu berkedip akan indahnya, sorak keceriaan awan menarik raja siang untuk bersembunyi karena ratu malam akan berganti menyinari bumi, segala yang ada di alam, kini searah kembali keasalnya , langit dan bumi seakan hening karena tabuh telah berbunyi menggemparkan alam yang sunyi ,berkumandanglah suara adzan hening menandakan kehormatan kepada sang maha pencipta Allah s.w.t. Tak ingin rasanya aku membuang waktu untuk menunda pertemuanku pada-Nya, sebagai ucap syukurku karena masih dapat melihat indah kekuasaan-Nya sore ini.




“kak Aisyah! “




Aku menoleh ketika namaku di panggil dari kejauhan, ia menghentikan langkahku seolah ia akan mengejarku dan ternyata ia adalah Amel , anak muridku di TPA (tempat pengajian anak).




“kak, malam sabtu ini apa materi kita? “ gumam Amel ketika kakinya berhasil menjajaki langkahku. “ kita belajar tentang bersyukur, bawa buku dan pena kan ? “ jawabku sembari berjalan menuju ke musholah. Sejak SMP  aku sangat ingin menjadi seorang guru, entah mengapa setiap kali aku melihat seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran didepan kelas aku menjadi terkagum-kagum melihat keikhlasannya dalam membagi ilmu, kini aku sudah menginjak semester terakhir di bangku SMA , aku sangat ingin sekali menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Segala cita-citaku sudah ku catat di dinding kamarku. Di musholah inilah aku perlahan mulai melatih lisan,dan sikap agar terbiasa menahan sabar dengan puluhan jenis sifat para peniti masa depan.




“ disini ada yang tahu siapa yang menciptakan langit dan bumi ? “ tanyaku kepada anak-anak yang terlihat sangat fokus melihat gambar ku dipapan tulis. Serentak mereka menjawab “ALLAH !! “. Dari luar kaca terlihat bayang seorang anak yang hendak menuju ke musholah, mataku mengikuti bayangan itu sampai akhirnya muncul di permukaan pintu musholah dengan raut wajahnya yang pucat.




”Assalamualaikum..maaf Sasa terlambat kak, tadi baru pulang dari les “  salamnya dari depan pintu dengan langkahnya yang terseret-seret berusaha untuk menjabati tanganku. “waalaikumsalam, sakit ya parasmu pucat Sa? ” tanyaku lirih “ punggung Sasa terasa nyeri sekali kak” jawabnya dengan wajah pucat . Aku segera mempersilahkannya untuk duduk dan bergabung dengan teman-temannya, Sasa adalah seorang anak mualaf yang baru beberapa bulan belajar membaca Al-Quran dan ibadah sholat, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sasa sangat dekat denganku, karena eratnya ukhuwah islamiah itu ayah dan ibu sasa juga menjadi mualaf.




Selesai dari mengajar aku melihat Sasa sedang menunggu jemputan, dengan wajahnya yang masih pucat ,duduk manis didepan musholah sambil mengulangi hafalan ayat pendek, melihat heningnya malam tak satupun aku melihat ada keramaian didekat musholah yang ada hanya nyanyian  jangkrik. Langkahku tak hanya sebatas pintu saja, perlahan aku menghampirinya.




“ehem, sepertinya asik sekali menghafal, boleh kakak ganggu tidak ? “




“ boleh kok, Sasa sebenarnya takut nunggu sendirian, makanya sambil baca-baca ayat Allah, karena Sasa yakin kalo Sasa nggak sendiri disini “ jawabnya. sambil menatapi langit malam yang dipenuhi gemerlip bintang, Sasa bercerita tentang keinginannya yang gigih hingga aku terharu mendengarnya.




“ coba kakak lihat , dilangit ada banyak bintang dan satu bulan, tapi di antara semuanya hanya satu bintang yang paling terang “ aku menjawab “ ya kakak melihatnya Sa, memangnya ada apa? Semua itu memang Allah ciptakan untuk menghiasi langit “ .




“ bulan itu adalah Sasa, jutaan bintang itu adalah teman-teman di TPA, dan yang paling terang itu adalah kakak “  jawabnya sambil menunjuk bintang dan bulan yang ada di langit.




“ kenapa harus kakak Sa? Harusnya orangtuamu? “ tanyaku dengan penuh heran. “ yaa, karena kakak yang mengajari Sasa untuk membaca AL-Quran , Sasa janji akan membuktikan kalo Sasa bisa menjadi pemenang MTQ dan penghargaannya Sasa persembahkan untuk kakak “ jawab Sasa sambil memeluk tubuhku dengan erat. Suhu badan Sasa sangat panas, raut wajahnya tambah memucat. Pelukan yang erat tiba-tiba melemas dengan sendirinya, ternyata Sasa pingsan dalam pelukanku. Aku melolong ke haluan langit untuk meminta pertolongan. Namun yang datang hanya satu orang bapak tua yang membantu menggendong Sasa ke musholah. Dari kejauhan aku melihat ayah Sasa telah datang menjemput, terkejut melihat kerumunan masyarakat di musholah, ayah Sasa langsung membawa Sasa kerumah sakit. Aku hanya bisa berdoa semoga penyakit Sasa bisa secepatnya di angkat oleh Allah s.w.t dan menjadi keberkahan sebagai obat penggugur dosa aamiin.




***




Langit yang membiru membuat pancaran sinarnya menjadi tolak ukur semangatku dipagi ini, dengan sepotong kue di tangan aku bergegas ke sekolah karena hasil kelulusan akan di umumkan, jantungku berdegub amat kencang seakan kaki ini tak merasakan lagi krikil-krikil yang berpejalan di tanah.




Pengumuman kelulusan akan di tempel di mading sekolah pada jam 10:00 pagi hari ini harap bersabar dan perbanyak berdoa




Begitu bunyi pesan dari wakil kurikulum yang di tempel di mading sekolah, jam di handphoneku menunjukkan jam tujuh pagi, sekolah terlihat sangat sepi. Tenggelam dalam lamunanku, tiba-tiba aku teringat dengan Sasa. Aku berjalan menyusuri lorong , namun ini bukan lorong yang biasa, lorong ini sangat asing. Suasananya penuh dengan kesedihan,kesakitan, dan penuh dengan kepiluan. Yaa, aku sedang berjalan di lorong rumah sakit. akhirnya Sasa dirujuk kerumah sakit setelah keadaannya yang menghawatirkan ketika pingsan malam itu.




Sasa sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri, aku bertanya kepada orangtua Sasa apa sebenarnya penyakit yang diderita Sasa, namun mereka tidak mau menjawab, mereka hanya menjawab Sasa hanya sakit tipes biasa karena kelelahan. Namun rasa penasaranku tidak sampai disini. Ketika suster  masuk ke dalam ruangan Sasa, aku melihat suster itu membuang bungkus obat yang Sasa minum ke dalam tong sampah. Tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di sana, aku membawa bungkus itu ke poliklinik , ketika aku memberikan bungkus obat itu kepada dokter, ia langsung bertanya “ siapa yang mengkonsumsinya? Kamu ? “ aku hanya bisa menggelengkan kepala dan menjawab itu di konsumsi oleh adikku, dokter itu segera menjelaskan tentang obat itu dan apa jenis penyakit yang di derita. Akhirnya aku mengetahui apa sebenarnya yang di derita oleh sasa.




***




Jam 10:00 aku segera ke sekolah, ternyata hasilnya seluruh anak SMA ku lulus 100% dengan penuh syukur aku langsung bersujud. Rasanya bercampur menjadi satu, bahagia ketika lulus dari SMA , kecewa karena orangtua Sasa tidak mau memberitahu penyakit yang diderita Sasa.




***




Aku termenung melihat badannya terkujur lemas dengan selang oksigen yang melingkar di wajahnya, aku menetsakan air mata hingga aku merasakan sentuhan tangannya merayap di pipiku, “ Kakak ga boleh nangis? Oh ya, kakak Lulus ? jadi pengumuman SNMPTNnya kapan kak? “ gumam Sasa sambil mengelap air mataku. “ alhamdulillah kakak lulus sayang, Sasa boleh kakak bicara sesuatu ? “ tanyaku sambil menggenggam tangannya yang lembut usai mengelap air mataku. “ Sasa kenapa gak pernah cerita sih kalo Sasa kena kanker darah ? “ kedua orangtua Sasa kelihatan bingung karena tak mengira aku tau tentang penyakit Sasa. mereka mendekatiku ,mengajakku keluar ruangan dan dengan ekspresi tenang mereka menjawab “ untuk apa nak? Kanker bukanlah sesuatu hal yang harus di pamerkan “ jawab ayah Sasa “ tapi bukan begini caranya om, setidaknya oom dan tante cerita sama keluargaku, atau oom selama ini tidak menganggap kami ini siapa-siapa? Sampai enggan berbagi seperti itu ? “




“ bukan begitu, kami sudah menganggapmu lebih dari saudara, kami tidak mau merepotkan keluargamu nak, kami selalu berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Sasa “




“ kalo memang melebihi saudara, izinkan aku untuk membantu Sasa om, untuk sembuh dari penyakit ini , aku rela menjadi pendonor sum-sum tulang belakang demi Sasa” aku berusaha meyakini mereka dengan kesungguhanku. “ jangan nak, ini resikonya sangat tinggi “ kedua orangtua Sasa selalu keras tidak menginginkan aku untuk mendonorkan sum-sum tulang belakang, mereka merasa merekalah yang berhak mendonor bukan aku.




Akhirnya aku dan kedua orangtua  Sasa melaksanakan tes darah, walaupun pada awalnya kedua orangtua sasa bersih keras menolak, namun dengan kesungguhanku, mereka mengizinkan aku untuk ikut tes darah.




“hasilnya akan di beritahu setelah 1minggu kedepan ya pak, karena banyak yang harus di uji untuk pendonoran ini “ begitulah kata dokter ketika kami keluar dari pintu laboratorium




***




Setelah beberapa minggu sasa di rawat akhirnya aku bisa melihatnya kembali di musholah, seperti biasa wajahnya selalu tampak pucat,pendonoran akan dilakukan apabila obat yang diberikan dokter telah habis dan hasil dari cek up menyatakan cocok. Sasa yang kulihat semakin lancer membaca Al-Quran dan sesekali ia meniru lantunan seorang qori yang mendayu-dayu.




“Anak-anak dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad s.a.w kakak dapat undangan kalo RT kita masuk dalam finalis lomba MTQ “ anak-anak bersorak kegirangan mengacungkan tangan kanannya berlomba-lomba ingin mengikuti lomba ini tak terkecuali Sasa yang mengemis-ngemis agar namanya di catat dalam lembar pendaftaran. Aku yakin Sasa pasti bisa memenangkan lomba itu.




Sudah 2 hari ini Sasa dan teman-temannya yang lain latihan membaca Al-Quran layaknya qori nasiona aku melihat Sasa sudah sangat mantap dengan bacaannya . Pada hati ke 3 dan ke 4 aku tidak melihat Sasa hadir di musholah untuk latihan, ternyata Amel teman dekat Sasa baru sempat memberitahu. Bahwa Sasa sakit, jadi tidak bisa latihan.




Aku kembali berjalan masih melewati lorong namun lorong ini penuh dengan kegelapan, tanpa cahaya , hanya suara serangga malam yang kudengar, ya aku berjalan menuju rumah Sasa. Dari kejauhan aku melihat ada mobil ambulan yang terparkir didepan rumah Sasa dengan keadaan siap berangkat. Tanpa berfikir aku langsung bergegas lari bayangan wajah sasa tak hilang dari fikiranku, perasaanku tidak enak. Dugaanku benar. Lagi-lagi Sasa pingsan , dengan mukenah yang masih menyelimuti tubuhku, aku pergi bersama kedua orangtua Sasa ke rumah sakit. tampak samar-samar dari luar kaca mobil terlihat ayah dan ibuku juga ikut mengiringi ambulan. dokter mengatakaan bahwa keadaan Sasa sangat melemah. Dan bertepatan dengan keluarnya hasil cek darah yang di lakukan satu minggu yang lalu. Tak lama aku , ayah, ibu dan kedua orangtua Sasa  duduk  menunggu Sasa sadar. Dokter memanggilku ibu,dan ayah Sasa untuk membicarakan hasil tes minggu lalu. “ setelah tes minggu lalu, ternyata kadar kecocokan darah kalian sama cocoknya, tapi saya sarankan saudari Aisyah saja yang menjadi donor, karena tingkat kecocokannya jauh lebih tinggi di bandingkan bapak dan ibu, sehingga mengurangi resiko berbahaya terhadapat pendonor, apakah anda kakaknya Sasa?” ayah dan ibu Sasa menoleh kepadaku dengan wajah yang berlinang airmata “ bukan dok, Aisyah ini tetangga kami, namun sudah kami anggap sebagai saudara” jawab ibu sambil mengusap kepalaku “ subhanalllah, inilah kuasa Allah bu, berkat usaha  dan keikhlasan inilah Allah mengabulkan niat baikmu nak“ menggeleng heran dan takjub. “ Dokter salah,memang kami bukan saudara kandung. inilah yang dinamakan ukhuwah islamiyah, karena ukhuwah itu cinta. Cintalah yang membuat kami memiliki kecocokan. Dan atas izin Allah ini semua terjadi “ semua terdiam karena mendengar jawabanku , mungkin dokter itu belum pernah mendapatkan pendonor yang sebahagia raut wajahku. Orangtuaku yang baru mengetahui hal ini terkejut. Dengan berbagai bujuk dan rayuan. Akhirnya mereka mengikhlaskanku melakukan operasi ini, karena mereka tau aku sudah dewasa dan mampu membuat keputusan sendiri.




Setelah Sasa sadar aku dan Sasa akhirnya dibawa keruangan operasi, ini kali pertama aku memasuki ruangan operasi, ternyata tak seburuk yang aku bayangkan.ketika  dokter dan suster sedang mempersiapkan peralatan bedah, aku di panggil oleh Sasa.




“ Kak Aisyah “ sasa menoleh ke arahku seakan tak sanggup lagi untuk berkata apa-apa




 “ iya sayang ada apa? “




 “ terimaksih ya kak, kakak  memang sangat baik aku tidak tau bagaimana cara membalasnya. Aku janji minggu depan aku akan memenangkan MTQ itu untuk kakak “ sambil meneteskan air mata




“ iya sayang, kita berdoa semoga kita berdua di lindungi oleh Allah untuk menjalankan operasi ini dengan lancer “ gumamku untuk menenangkan sasa sebelum operasi.




Suster segera menarik tabir berwarna putih itu operasi akan segera dimulai, suster menyuruhku untuk mengubah poisi tubuh menjadi telungkup dan menyuntik ku, perlahan mataku terasa berat dan semua menjadi gelap.




***




Operasi berjalan dengan lancer, aku dan Sasa kini sama-sama terbaring di dalam satu ruangan. Dokter menyaraniku agar tidak terlalu banyak aktivitas. Karena tubuhku tidakb bisa kecapekan.




5 hari setelah operasi di lakukan. Sasa dengan penuh keyakinan mengikuti lomba MTQ itu, dengan korsi roda yang selalu ku bawa kemana-mana, aku duduk posisi paling depan, untuk menyaksikan Sasa karena dia janji akan mempersembahkan kemenangannya untukku. aku di temani ayah dan ibu serta kedua orangtua sasa di barisan paling depan.




“peserta selanjutnya dari RT 22 desa mendalo darat atas nama Sasa Nabila Cantika Putri di persilahkan “ gumam pembawa acara dari atas pentas.




Ya panggilan itulah yang aku nanti. Seorang anak dengan keinginannya yang besar untuk mentauladani Al-Quran kini berada di atas panggung yang megah. Di saksika para petinggi daerah dan seluruh anak TPA , “yaa aku bangga denganmu Sa” batinku lirih. Namun ntah mengapa kepala ini pusing berat sehingga tak mampu untuk menahannya jantungku menyesak, hidungku mengeluarkan darah , Akhirnya aku pergi meninggalkan acara besar itu, dan terbaring di rumah sakit. semua terasa sangaat gelap




***




Tanah itu masih basah , di atasnya ditaburi dengan bunga-bunga yang wangi semerbak, nama Aisyah Lailatul Islami terukir indah di atas batu nisan yang tertancap rapi di atas tanah , sebuah piala, seamplop uang dan selembar kertas tercetak nama Sasa Nabila Cantika Putri semua tersusun rapi di atas makam itu. “Aisyah di jemput oleh yang maha kuasa lebih dulu setelah mengalami masa kritis malam itu” jelas ibu Aisyah sendu sambil menghapus air matanya dengan penuh keikhlasan . Dan kini aku duduk di samping batunisan “aku memenangkannya kak “ ucapku sambil meneteskan airmata, aku tak tau harus melakukan apa. Aku hanya bisa berdoa semoga kak Aisyah bisa diterima di sisi Allah di tempat yang sangat mulia. Seorang gadis cantik yang baru tamat SMA dengan kemuliaannya mengajariku dan cita-citanya menjadi seorang guru, aku berhasil memenangkan lomba MTQ ini. Aku berjanji akan selalu menjaga kedua orangtua kak Aisyah sebagai orangtuaku sendiri, menyayangi mereka dan meneruskan cita-citamu, Aku janji kak....



^TAMAT^