Minggu, 10 Mei 2015

Doa Untukmu



Pergantian fajar dan  senja tak mampu aku kendalikan
Dentang lonceng malam ini tepat kau berusia dewasa
Rentang waktu terkadang membuat kita sadar
Bahwa kita manusia yang tak punya apa-apa
Selain jasad yang tidak berguna
Mengiringi pertambahan usiamu
Tidak dengan serangkai bunga
Tidak juga dengan sebait puisi yang ditulis penyair ternama penuh puja dan puji
Ataupun dengan barang selangit harganya
Ku kan sematkan kata terindah penuh makna
Yang telah kubungkus rapi bersemayang dalam qolbu-ku
Dariku untukmu
Bismillahhirrohmannirrohiim..
Semoga Allah memberimu kesabaran hingga kau mampu berdiri sendiri ketika terjatuh
Terus bersemangat meski dengan 1 kaki sekalipun
semoga Allah mampu menurunkan malaikat yang mampu menjagamu
Agar setiap satu langkah di hidupmu merasa tenang
Walaupun ribuan godaan kau hadapi
Semoga Allah memberikanmu kesehatan dan kebahagiaan
Hingga kau mampu menjadi warna di kehidupan sekitarmu
Dan ku berdoa semoga engkau senantiasa mencintai Allah
melebihi kasih sayangmu kepada siapapun
Mentauladani rasulmu Muhammad
Agar kelak kau mampu mengajak umatmu kesyurga bersama
Ini kupersembahkan pada mu
Kado terindah dalam hidupmu J

Sabtu, 07 Maret 2015

KARENA UKHUWAH ITU CINTA





Senja mulai pergi menjemput malam, langit di ujung cakrawala kini tak lagi membiru. perlahan berubah menjadi warna jingga yang membuat mata tak mampu berkedip akan indahnya, sorak keceriaan awan menarik raja siang untuk bersembunyi karena ratu malam akan berganti menyinari bumi, segala yang ada di alam, kini searah kembali keasalnya , langit dan bumi seakan hening karena tabuh telah berbunyi menggemparkan alam yang sunyi ,berkumandanglah suara adzan hening menandakan kehormatan kepada sang maha pencipta Allah s.w.t. Tak ingin rasanya aku membuang waktu untuk menunda pertemuanku pada-Nya, sebagai ucap syukurku karena masih dapat melihat indah kekuasaan-Nya sore ini.




“kak Aisyah! “




Aku menoleh ketika namaku di panggil dari kejauhan, ia menghentikan langkahku seolah ia akan mengejarku dan ternyata ia adalah Amel , anak muridku di TPA (tempat pengajian anak).




“kak, malam sabtu ini apa materi kita? “ gumam Amel ketika kakinya berhasil menjajaki langkahku. “ kita belajar tentang bersyukur, bawa buku dan pena kan ? “ jawabku sembari berjalan menuju ke musholah. Sejak SMP  aku sangat ingin menjadi seorang guru, entah mengapa setiap kali aku melihat seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran didepan kelas aku menjadi terkagum-kagum melihat keikhlasannya dalam membagi ilmu, kini aku sudah menginjak semester terakhir di bangku SMA , aku sangat ingin sekali menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Segala cita-citaku sudah ku catat di dinding kamarku. Di musholah inilah aku perlahan mulai melatih lisan,dan sikap agar terbiasa menahan sabar dengan puluhan jenis sifat para peniti masa depan.




“ disini ada yang tahu siapa yang menciptakan langit dan bumi ? “ tanyaku kepada anak-anak yang terlihat sangat fokus melihat gambar ku dipapan tulis. Serentak mereka menjawab “ALLAH !! “. Dari luar kaca terlihat bayang seorang anak yang hendak menuju ke musholah, mataku mengikuti bayangan itu sampai akhirnya muncul di permukaan pintu musholah dengan raut wajahnya yang pucat.




”Assalamualaikum..maaf Sasa terlambat kak, tadi baru pulang dari les “  salamnya dari depan pintu dengan langkahnya yang terseret-seret berusaha untuk menjabati tanganku. “waalaikumsalam, sakit ya parasmu pucat Sa? ” tanyaku lirih “ punggung Sasa terasa nyeri sekali kak” jawabnya dengan wajah pucat . Aku segera mempersilahkannya untuk duduk dan bergabung dengan teman-temannya, Sasa adalah seorang anak mualaf yang baru beberapa bulan belajar membaca Al-Quran dan ibadah sholat, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sasa sangat dekat denganku, karena eratnya ukhuwah islamiah itu ayah dan ibu sasa juga menjadi mualaf.




Selesai dari mengajar aku melihat Sasa sedang menunggu jemputan, dengan wajahnya yang masih pucat ,duduk manis didepan musholah sambil mengulangi hafalan ayat pendek, melihat heningnya malam tak satupun aku melihat ada keramaian didekat musholah yang ada hanya nyanyian  jangkrik. Langkahku tak hanya sebatas pintu saja, perlahan aku menghampirinya.




“ehem, sepertinya asik sekali menghafal, boleh kakak ganggu tidak ? “




“ boleh kok, Sasa sebenarnya takut nunggu sendirian, makanya sambil baca-baca ayat Allah, karena Sasa yakin kalo Sasa nggak sendiri disini “ jawabnya. sambil menatapi langit malam yang dipenuhi gemerlip bintang, Sasa bercerita tentang keinginannya yang gigih hingga aku terharu mendengarnya.




“ coba kakak lihat , dilangit ada banyak bintang dan satu bulan, tapi di antara semuanya hanya satu bintang yang paling terang “ aku menjawab “ ya kakak melihatnya Sa, memangnya ada apa? Semua itu memang Allah ciptakan untuk menghiasi langit “ .




“ bulan itu adalah Sasa, jutaan bintang itu adalah teman-teman di TPA, dan yang paling terang itu adalah kakak “  jawabnya sambil menunjuk bintang dan bulan yang ada di langit.




“ kenapa harus kakak Sa? Harusnya orangtuamu? “ tanyaku dengan penuh heran. “ yaa, karena kakak yang mengajari Sasa untuk membaca AL-Quran , Sasa janji akan membuktikan kalo Sasa bisa menjadi pemenang MTQ dan penghargaannya Sasa persembahkan untuk kakak “ jawab Sasa sambil memeluk tubuhku dengan erat. Suhu badan Sasa sangat panas, raut wajahnya tambah memucat. Pelukan yang erat tiba-tiba melemas dengan sendirinya, ternyata Sasa pingsan dalam pelukanku. Aku melolong ke haluan langit untuk meminta pertolongan. Namun yang datang hanya satu orang bapak tua yang membantu menggendong Sasa ke musholah. Dari kejauhan aku melihat ayah Sasa telah datang menjemput, terkejut melihat kerumunan masyarakat di musholah, ayah Sasa langsung membawa Sasa kerumah sakit. Aku hanya bisa berdoa semoga penyakit Sasa bisa secepatnya di angkat oleh Allah s.w.t dan menjadi keberkahan sebagai obat penggugur dosa aamiin.




***




Langit yang membiru membuat pancaran sinarnya menjadi tolak ukur semangatku dipagi ini, dengan sepotong kue di tangan aku bergegas ke sekolah karena hasil kelulusan akan di umumkan, jantungku berdegub amat kencang seakan kaki ini tak merasakan lagi krikil-krikil yang berpejalan di tanah.




Pengumuman kelulusan akan di tempel di mading sekolah pada jam 10:00 pagi hari ini harap bersabar dan perbanyak berdoa




Begitu bunyi pesan dari wakil kurikulum yang di tempel di mading sekolah, jam di handphoneku menunjukkan jam tujuh pagi, sekolah terlihat sangat sepi. Tenggelam dalam lamunanku, tiba-tiba aku teringat dengan Sasa. Aku berjalan menyusuri lorong , namun ini bukan lorong yang biasa, lorong ini sangat asing. Suasananya penuh dengan kesedihan,kesakitan, dan penuh dengan kepiluan. Yaa, aku sedang berjalan di lorong rumah sakit. akhirnya Sasa dirujuk kerumah sakit setelah keadaannya yang menghawatirkan ketika pingsan malam itu.




Sasa sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri, aku bertanya kepada orangtua Sasa apa sebenarnya penyakit yang diderita Sasa, namun mereka tidak mau menjawab, mereka hanya menjawab Sasa hanya sakit tipes biasa karena kelelahan. Namun rasa penasaranku tidak sampai disini. Ketika suster  masuk ke dalam ruangan Sasa, aku melihat suster itu membuang bungkus obat yang Sasa minum ke dalam tong sampah. Tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di sana, aku membawa bungkus itu ke poliklinik , ketika aku memberikan bungkus obat itu kepada dokter, ia langsung bertanya “ siapa yang mengkonsumsinya? Kamu ? “ aku hanya bisa menggelengkan kepala dan menjawab itu di konsumsi oleh adikku, dokter itu segera menjelaskan tentang obat itu dan apa jenis penyakit yang di derita. Akhirnya aku mengetahui apa sebenarnya yang di derita oleh sasa.




***




Jam 10:00 aku segera ke sekolah, ternyata hasilnya seluruh anak SMA ku lulus 100% dengan penuh syukur aku langsung bersujud. Rasanya bercampur menjadi satu, bahagia ketika lulus dari SMA , kecewa karena orangtua Sasa tidak mau memberitahu penyakit yang diderita Sasa.




***




Aku termenung melihat badannya terkujur lemas dengan selang oksigen yang melingkar di wajahnya, aku menetsakan air mata hingga aku merasakan sentuhan tangannya merayap di pipiku, “ Kakak ga boleh nangis? Oh ya, kakak Lulus ? jadi pengumuman SNMPTNnya kapan kak? “ gumam Sasa sambil mengelap air mataku. “ alhamdulillah kakak lulus sayang, Sasa boleh kakak bicara sesuatu ? “ tanyaku sambil menggenggam tangannya yang lembut usai mengelap air mataku. “ Sasa kenapa gak pernah cerita sih kalo Sasa kena kanker darah ? “ kedua orangtua Sasa kelihatan bingung karena tak mengira aku tau tentang penyakit Sasa. mereka mendekatiku ,mengajakku keluar ruangan dan dengan ekspresi tenang mereka menjawab “ untuk apa nak? Kanker bukanlah sesuatu hal yang harus di pamerkan “ jawab ayah Sasa “ tapi bukan begini caranya om, setidaknya oom dan tante cerita sama keluargaku, atau oom selama ini tidak menganggap kami ini siapa-siapa? Sampai enggan berbagi seperti itu ? “




“ bukan begitu, kami sudah menganggapmu lebih dari saudara, kami tidak mau merepotkan keluargamu nak, kami selalu berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Sasa “




“ kalo memang melebihi saudara, izinkan aku untuk membantu Sasa om, untuk sembuh dari penyakit ini , aku rela menjadi pendonor sum-sum tulang belakang demi Sasa” aku berusaha meyakini mereka dengan kesungguhanku. “ jangan nak, ini resikonya sangat tinggi “ kedua orangtua Sasa selalu keras tidak menginginkan aku untuk mendonorkan sum-sum tulang belakang, mereka merasa merekalah yang berhak mendonor bukan aku.




Akhirnya aku dan kedua orangtua  Sasa melaksanakan tes darah, walaupun pada awalnya kedua orangtua sasa bersih keras menolak, namun dengan kesungguhanku, mereka mengizinkan aku untuk ikut tes darah.




“hasilnya akan di beritahu setelah 1minggu kedepan ya pak, karena banyak yang harus di uji untuk pendonoran ini “ begitulah kata dokter ketika kami keluar dari pintu laboratorium




***




Setelah beberapa minggu sasa di rawat akhirnya aku bisa melihatnya kembali di musholah, seperti biasa wajahnya selalu tampak pucat,pendonoran akan dilakukan apabila obat yang diberikan dokter telah habis dan hasil dari cek up menyatakan cocok. Sasa yang kulihat semakin lancer membaca Al-Quran dan sesekali ia meniru lantunan seorang qori yang mendayu-dayu.




“Anak-anak dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad s.a.w kakak dapat undangan kalo RT kita masuk dalam finalis lomba MTQ “ anak-anak bersorak kegirangan mengacungkan tangan kanannya berlomba-lomba ingin mengikuti lomba ini tak terkecuali Sasa yang mengemis-ngemis agar namanya di catat dalam lembar pendaftaran. Aku yakin Sasa pasti bisa memenangkan lomba itu.




Sudah 2 hari ini Sasa dan teman-temannya yang lain latihan membaca Al-Quran layaknya qori nasiona aku melihat Sasa sudah sangat mantap dengan bacaannya . Pada hati ke 3 dan ke 4 aku tidak melihat Sasa hadir di musholah untuk latihan, ternyata Amel teman dekat Sasa baru sempat memberitahu. Bahwa Sasa sakit, jadi tidak bisa latihan.




Aku kembali berjalan masih melewati lorong namun lorong ini penuh dengan kegelapan, tanpa cahaya , hanya suara serangga malam yang kudengar, ya aku berjalan menuju rumah Sasa. Dari kejauhan aku melihat ada mobil ambulan yang terparkir didepan rumah Sasa dengan keadaan siap berangkat. Tanpa berfikir aku langsung bergegas lari bayangan wajah sasa tak hilang dari fikiranku, perasaanku tidak enak. Dugaanku benar. Lagi-lagi Sasa pingsan , dengan mukenah yang masih menyelimuti tubuhku, aku pergi bersama kedua orangtua Sasa ke rumah sakit. tampak samar-samar dari luar kaca mobil terlihat ayah dan ibuku juga ikut mengiringi ambulan. dokter mengatakaan bahwa keadaan Sasa sangat melemah. Dan bertepatan dengan keluarnya hasil cek darah yang di lakukan satu minggu yang lalu. Tak lama aku , ayah, ibu dan kedua orangtua Sasa  duduk  menunggu Sasa sadar. Dokter memanggilku ibu,dan ayah Sasa untuk membicarakan hasil tes minggu lalu. “ setelah tes minggu lalu, ternyata kadar kecocokan darah kalian sama cocoknya, tapi saya sarankan saudari Aisyah saja yang menjadi donor, karena tingkat kecocokannya jauh lebih tinggi di bandingkan bapak dan ibu, sehingga mengurangi resiko berbahaya terhadapat pendonor, apakah anda kakaknya Sasa?” ayah dan ibu Sasa menoleh kepadaku dengan wajah yang berlinang airmata “ bukan dok, Aisyah ini tetangga kami, namun sudah kami anggap sebagai saudara” jawab ibu sambil mengusap kepalaku “ subhanalllah, inilah kuasa Allah bu, berkat usaha  dan keikhlasan inilah Allah mengabulkan niat baikmu nak“ menggeleng heran dan takjub. “ Dokter salah,memang kami bukan saudara kandung. inilah yang dinamakan ukhuwah islamiyah, karena ukhuwah itu cinta. Cintalah yang membuat kami memiliki kecocokan. Dan atas izin Allah ini semua terjadi “ semua terdiam karena mendengar jawabanku , mungkin dokter itu belum pernah mendapatkan pendonor yang sebahagia raut wajahku. Orangtuaku yang baru mengetahui hal ini terkejut. Dengan berbagai bujuk dan rayuan. Akhirnya mereka mengikhlaskanku melakukan operasi ini, karena mereka tau aku sudah dewasa dan mampu membuat keputusan sendiri.




Setelah Sasa sadar aku dan Sasa akhirnya dibawa keruangan operasi, ini kali pertama aku memasuki ruangan operasi, ternyata tak seburuk yang aku bayangkan.ketika  dokter dan suster sedang mempersiapkan peralatan bedah, aku di panggil oleh Sasa.




“ Kak Aisyah “ sasa menoleh ke arahku seakan tak sanggup lagi untuk berkata apa-apa




 “ iya sayang ada apa? “




 “ terimaksih ya kak, kakak  memang sangat baik aku tidak tau bagaimana cara membalasnya. Aku janji minggu depan aku akan memenangkan MTQ itu untuk kakak “ sambil meneteskan air mata




“ iya sayang, kita berdoa semoga kita berdua di lindungi oleh Allah untuk menjalankan operasi ini dengan lancer “ gumamku untuk menenangkan sasa sebelum operasi.




Suster segera menarik tabir berwarna putih itu operasi akan segera dimulai, suster menyuruhku untuk mengubah poisi tubuh menjadi telungkup dan menyuntik ku, perlahan mataku terasa berat dan semua menjadi gelap.




***




Operasi berjalan dengan lancer, aku dan Sasa kini sama-sama terbaring di dalam satu ruangan. Dokter menyaraniku agar tidak terlalu banyak aktivitas. Karena tubuhku tidakb bisa kecapekan.




5 hari setelah operasi di lakukan. Sasa dengan penuh keyakinan mengikuti lomba MTQ itu, dengan korsi roda yang selalu ku bawa kemana-mana, aku duduk posisi paling depan, untuk menyaksikan Sasa karena dia janji akan mempersembahkan kemenangannya untukku. aku di temani ayah dan ibu serta kedua orangtua sasa di barisan paling depan.




“peserta selanjutnya dari RT 22 desa mendalo darat atas nama Sasa Nabila Cantika Putri di persilahkan “ gumam pembawa acara dari atas pentas.




Ya panggilan itulah yang aku nanti. Seorang anak dengan keinginannya yang besar untuk mentauladani Al-Quran kini berada di atas panggung yang megah. Di saksika para petinggi daerah dan seluruh anak TPA , “yaa aku bangga denganmu Sa” batinku lirih. Namun ntah mengapa kepala ini pusing berat sehingga tak mampu untuk menahannya jantungku menyesak, hidungku mengeluarkan darah , Akhirnya aku pergi meninggalkan acara besar itu, dan terbaring di rumah sakit. semua terasa sangaat gelap




***




Tanah itu masih basah , di atasnya ditaburi dengan bunga-bunga yang wangi semerbak, nama Aisyah Lailatul Islami terukir indah di atas batu nisan yang tertancap rapi di atas tanah , sebuah piala, seamplop uang dan selembar kertas tercetak nama Sasa Nabila Cantika Putri semua tersusun rapi di atas makam itu. “Aisyah di jemput oleh yang maha kuasa lebih dulu setelah mengalami masa kritis malam itu” jelas ibu Aisyah sendu sambil menghapus air matanya dengan penuh keikhlasan . Dan kini aku duduk di samping batunisan “aku memenangkannya kak “ ucapku sambil meneteskan airmata, aku tak tau harus melakukan apa. Aku hanya bisa berdoa semoga kak Aisyah bisa diterima di sisi Allah di tempat yang sangat mulia. Seorang gadis cantik yang baru tamat SMA dengan kemuliaannya mengajariku dan cita-citanya menjadi seorang guru, aku berhasil memenangkan lomba MTQ ini. Aku berjanji akan selalu menjaga kedua orangtua kak Aisyah sebagai orangtuaku sendiri, menyayangi mereka dan meneruskan cita-citamu, Aku janji kak....



^TAMAT^

Rabu, 09 April 2014

MENGENAL NAMANYA


  
Sore ini suasana di masjid sungguh indah, matahari yang mulai bersembunyi di balik awan, memancarkan warna merah jingga , semua ciptaan-Nya terbang dengan indah di atas langit, untuk kembali ke habitatnya, menandakan hari semakin petang. Aku dan teman-temanku lepas magrib ini akan menghadiri undangan rapat guna merencanakan kegiatan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Aku pergi melangkah dengan pakaian yang sopan, kain yang menutupi kepala hingga dibawah dada, dan rok yang menutupi hingga ujung jari kakiku. Dan kulihat jam tangan ku menunjukkan pukul 19:00, suara canda teman-temanku sudah semakin dekat dengan pintu rumahku, dan alunan murotal surah Al-baqaroh melantun indah hingga terdengar oleh  seluruh rumah di perumahan ini.
“assalamualaikum ukh, ayo kita pergi “ sahutan salam oleh teman ku terdengar hingga gendang teliga ini berdenging mendengarnya
“ waalaikumsalam ukh, ayo kita pergi “
Sesampainya di masjid, hiruk pikuk keramaian dari anak-anak  remaja terdengar. Terlihat tabir panjang yang membatasi antara wanita dan laki-laki, dan terdengar pula suara yang bergema, lantang, dan tegas di balik tabir itu, rapat akan segera di buka. Aku dan teman-teman ku terhening, mendengarkan mukadimah  seorang ikhwan dibalik tabir itu. Semuanya mendengarkan beliau berbicara di depan, namun untuk lebih menjaga kemuliaan itu, tabir tidak boleh di buka, sehingga jemari ku yang gemulai ini menggenggam pena dan mulai menari-nari di atas lembaran suci. Setiap aku dan teman-teman ku mengikuti rapat ini , kami selalu membawa catatan kecil, agar agenda yang telah di sampaikan tidak berceceran di tengah jalan nantinya. Perayaan Maulid Nabi ini akan di adakan 1 minggu lagi.
“ apakah anti mendengarnya ? ana dan anti mendapatkan tugas yang sama, Seksi Dekorasi “ semangat teman ku Rinita membuat aku lebih semangat untuk mengagendakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini.
Rapat pun selesai, adzan isya pun berkumandang merdu , aku dan teman-teman ku pergi mengantri di tempat wudhu putri bertempat samping kanan masjid, semuanya  terlihat mengantri dengan penuh sabar, pembatas itu berada di mana-mana, karena kami selalu menjaga kemuliaan hati dan akhlak itu. Tak sengaja ketika selesai mengambil air wudhu, mataku berpaling ke hadapan pintu masuk , tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang terpancar sinar di wajahnya, dia sangat tampan.
“ astagfirullahhaladziim, ampun kan aku ya allah, tak bermaksud untuk menzinai hati ini “ lirih batinku
***
Siang ini aku berjalan dengan sahabatku Rinita Istiqomah untuk membeli perlengkapan malam Maulid Nabi nantinya. Aku dan sahabatku berpisah , agar secepatnya dapat mengumpulkan bahan yang di perlukan. Hingga akhirnya ada seorang  laki – laki yang menyapaku.
“ assalamualaikum ukh, ana mau nanya
 akh, kamu jadi membeli buku agenda untuk sekolah mu “
Itulah kalimat lantang yang aku dan Rinita dengar di balik rak kertas minyak itu.
“ anti mendengar suara itu? “ tanyaku kepada Rinita
“ iya ukh, ana mendengarnya, seperti tidak familiar lagi telinga ini mendengarnya “
“ ternyata bukan aku saja yang merasakan suara itu tidak familiar lagi namun sahabat ku juga merasakan nya “ batinku menderu, sejenak aku membayangkan  wajah lelaki itu dan tiba-tiba teringat bahwa allah bisa melihat segalanya.
“ astaghfirullahaladziim”
“ ada apa ukh? “ tanya Rinita dengan dahi nya yang mengkerut , heran melihatku tiba-tiba mengucap istigfar di hadapan nya.
“ owalah, tidak ada apa-apa, ana lupa kalo kita harus mengejar waktu karena masih banyak yang harus kita lakukan di rumah nantinya
Sesampai di rumah aku merebahkan badan ini di atas kasur, bahkan pakaian yang aku kenakan blum sempat aku lepas, suara lantang dan merdu itu selalu terngiang di telinga ini, seperti  ada banyak nyamuk di sekeliling telingaku  bernyanyi dengan riang dan merdu. Pmikiran dan hati ini semakin kotor, akhirnya kulepas pakaian ku, dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Memohon ampun kepada yang maha agung atas segala yang aku lakukan siang hari ini.
Adzan ashar itu akhirnya berkumandang, selepas sholat ashar aku segera  mengambil al-quran di atas meja belajar ku, untuk membacanya ayat demi  ayat. Semakin lama semakin tenang dan aku berharap kejadian siang tadi  tidak terulang di kemudian harinya.
“ mayliza….. ayo makan malam dulu nak, ibu dan ayah akan pergi nantinya ke cukuran adik sepupumu di kota baru “ suara ibu yang selalu menjadi penyejuk dan pelengkap hidup itu akhirnya memanggilku untuk makan malam.
“ iya bu, tunggu sebentar “ akupun segera keluar dari kamar tidurku yang sedang asik mengerjakan Pr.
Malam pun terasa hening, hanya ada krikikkan dari suara jangkrik dan kodok di sekeliling rumah ku. Dengan perut yang masih kekenyangan, aku mengambil ponsel ku dan duduk manis di depan tv, sambil menelpon sahabatku Rinita Istiqomah.
“ halo, assalamualaiku”
“ waalaikumsalam”
“ ukh, kita besok masih mencari perlengkapan dekorasi kah? “tanyaku lirih, pelan namun seperti memohon, karena aku tak berani pergi sendirian ke toko buku.
“ astagfirullahaladziim, afwan jiddan ukhti, anti siang nanti harus pergi menemani ibu, beliau minta di temani kerumah paman” jawab sahabatku
“ oh, iya tidak apa-apa ukh, nanti ana usahakan pergi sendiri sajalah haha “ berusaha untuk ikhlas karena nanti akan berjalan di tengah keramaian sendirian.
“ iya, ukh afwan jiddan”
“ oke, salam untuk paman dan ibu di rumah ya, assalamualaikum “
“ waalaikumsalam”
Setelah memutuskan telpon, aku kembali beranjak ke kamar ku, untuk melanjutkan Pr ku. Tak lama kemudia ada pesan singkat yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tak aku kenali.
“assalamualaikum ukhti, siang kemarin ana tak sengaja melihat uang anti jatuh Rp.100.000.00 dan sekarang uang itu masih ada dengan ana, besok akan ana kembalikan di meja kelas anti “
Yaaa. Itulah isi pesan singkat dari nomor yang tak aku kenal, namun tak ku pikirkan siapa yang sms, bahkan pulsa ku tidak mencukupi lagi untuk membalasnya. Tak jadi bermesraan dengan Pr pikiranku melayang memikirkan uang  yang jatuh itu, tak pernah aku memegang uang sebanyak itu untuk pergi kesekolah, sejenak aku mengingat , “ astagfirullahaladziim,kemarin aku membawa uang iuran masjid, untuk membeli perlengkapan dekorasi” batinku. Aku mulai mengoreksi diri, mengapa sifat ceroboh ini tak kunjung usai menjadi sebuah kebiasaan ku. Ternyata memang benar, uang iuran untuk membeli perlengkapan Maulid Nabi SAW, aku pun menenangkan pikiran ini, dan mengambil air wudhu untuk sholat isya.
06:45
Seperti biasa aku pergi sekolah di antar oleh Ibu, sesampai di depan gerbang, semua guru-guru yang piket pada hari itu , berdiri menyambut siswa nya. Biasanya siswa yang datang pagi lah yang mendapatkan senyuman manis dan jabatan tangan dari guru-guru di sini.
Tak seperti biasa, hari ini kelas ku sudah terbuka, biasanya setiap aku datang ke sekolah, pastilah ruang kelas ini belum di buka. Pagi ini berbeda dari sebelum nya, ada salah seorang teman ku yang datang lebih dulu dari ku dan  ternyata benar seseorang yang mengirimkan pesan ke ponsel ku semalam benar meletakkan uang yang terjatuh di atas meja . Aku semakin penasaran siapa yang berhati mulia itu.
“ anti melihat siapa yang menaruh amplop di atas meja ini? “ tanyaku kepada teman yang datang lebih dulu dari ku
“ tidak, ana saja tidak mengetahui bahwa ada amplop di atas meja anti”
Tidak ada yang mengetahui siapa yang menaruh, hanya untuk mengucapkan sepatah kata terimakasih saja untuk nya, namun tidak ada yang mengetahui nya.
mungkin saja ibu retno mengetahui siapa yang menaruh amplop putih ini “ batin ku,
“ mey, anti mau kemana? “ tanya rinita
“ ana mau mencari tahu siapa yang berbaik hati mengembalikan uang ana ukh “ jelas ku tergesah-gesah dan langsung berlari kecil keluar kelas, dan segera kerumah ibu retno.
“ assalamualaikum “ sambil mengetok pintu
“ wa’alaikumsalam, ada apa nak “
“ begini bu, apakah ibu melihat siapa yang meletakkan amplop putih di atas meja saya”
“ oh amplop itu, tadi pagi ada seorang anak laki-laki yang meminta kunci kelas kepada ibu nak, dan ibu lupa menanyakan dia kelas berapa dan namanya” penjelasan singkat dari ibu retno
Sedikit informasi dari ibu retno membuat aku dan rinita semakin penasaran siapa yang menaruh amplop putih itu.
***
Sepulang sekolah, aku berencana untuk kembali mencari perlengkapan dekorasi, kali ini aku tidak berdua dengan sahabat ku, aku berjalan sendiri. Akupun berjalan merunduk, agar tidak memancing nafsu adam ketika melihatku berjalan sendiri.
Sesampainya di toko buku, mataku berpaling ke salah satu Al-quran yang ada di rak paling atas, al-quran kecil berwarna biru langit , akupun mengambil al-quran itu dan duduk manis di kursi yang telah di sediakan di toko buku tersebut, dan membacanya.
“ assalamualaikum ukhti” seperti suara yang tidak familiar lagi, akupun melihat siapa yang memanggilku.
“ waalaikumsalam akhi” sahut salam ku, ketika aku mengetahui yang memanggilku seorang laki-laki, aku tak berani lagi melihat matanya
“ uang yang aku letakkan di atas meja anti, sudah di terima kan? “ tanya lelaki itu lirih
Ketika dia menanyakan hal itu , wajahku terangkat dan mengucapkan terimakasih kepadanya, sampai akhirnya ia sendiri kebingungan dengan tingkahku.
“ terimakasih akh”
Sepata demi patah kami pun melanjutkan obrolah itu, ternyata dialah seorang lelaki yang suaranya tidak familiar lagi di telingaku, ternyata dia yang berbicara dibalik tabir, ternyata dia yang berbicara di balik rak buku, ternyata dia yang menemui uang ku yang jatuh, ternyata dia yang selama ini ku cari. Aku merenungi wajahnya, ku pandang hidungnya yang bangir, ku resapi suaranya yang lantang hingga aku terhayun terbawa hembusan angin.
“ astagfirullahhaladziim, ya allah apa yang aku lakukan, aku mengingat hal yang tak sewajarnya aku ingat, ma’afkan aku ya Allah” batinku tersentak
Sembari melihat al-quran aku secepatnya meninggalkan tempat itu  karena aku tak mau berlama-lama terperangkap oleh perzinaan hati dan pikiran.
***
Malam yang di tunggu – tunggu akhirnya datang, Maulid Nabi akan segera dimulai, semua tamu undangan duduk damai di dalam masjid, menikmati rangkaian acara demi acara, mala mini yang jadi pembawa acaranya adalah laki – laki yang aku temui di toko buku kemarin, sampai detik ini aku tidak mengetahui siapa namanya, sepertinya dia anak baru di komplek ini.
“ Mey, suara laki – laki itu sama seperti suara laki – laki yang di toko buku kemarin, benar tidak?“ tanya Rinita
“ iya ukh, anti benar dan dia juga yang sudah mengembalikan uang ana di atas meja kelas”
“ sungguh? Subhanallah, mulianya hati lelaki itu, siapa namanya ukh? “ tanya Rinita sambil menghadapkan wajah dengan dahi mengkerut ke hadapanku
“ naahhh, itu dia, ana lupa menanyakannya, yasudahlah tidak baik bergunjing di masjid hehe” tegasku mengalihkan pembicaraan.
Rangkaian demi rangkaian pun berjalan, akhirnya acara Maulid Nabipun berjalan dengan lancer, di pintu keluar masjid aku melihat laki – laki itu sedag menyapu sisa – sisa snack  dari para tamu undangan.
“ assalamualaikum ukhti “
“ waalaikumsalam, ada apa akh?” jawabku malu – malu
ternyata dengan tak di duga,laki – laki itu menanyakan namaku. Nama laki – laki yang berjenggot tipis itu Yubi Sholahudin , nama yang sangat cocok dengan akhlak nya yang dermawan, dan suaranya yang lantang, semua rasa penasaran itu terjawab sudah. Bermula dari persiapan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW , dan berakhir di pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.rasa penasaran itu berlabuh pada
^The End^