Sore
ini suasana di masjid sungguh indah, matahari yang mulai bersembunyi di balik
awan, memancarkan warna merah jingga , semua ciptaan-Nya terbang dengan indah
di atas langit, untuk kembali ke habitatnya, menandakan hari semakin petang.
Aku dan teman-temanku lepas magrib ini akan menghadiri undangan rapat guna
merencanakan kegiatan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Aku pergi
melangkah dengan pakaian yang sopan, kain yang menutupi kepala hingga dibawah
dada, dan rok yang menutupi hingga ujung jari kakiku. Dan kulihat jam tangan ku
menunjukkan pukul 19:00, suara canda teman-temanku sudah semakin dekat dengan
pintu rumahku, dan alunan murotal surah Al-baqaroh
melantun indah hingga terdengar oleh
seluruh rumah di perumahan ini.
“assalamualaikum
ukh, ayo kita pergi “ sahutan salam oleh teman ku terdengar hingga gendang
teliga ini berdenging mendengarnya
“
waalaikumsalam ukh, ayo kita pergi “
Sesampainya
di masjid, hiruk pikuk keramaian dari anak-anak remaja terdengar. Terlihat tabir panjang yang
membatasi antara wanita dan laki-laki, dan terdengar pula suara yang bergema,
lantang, dan tegas di balik tabir itu, rapat akan segera di buka. Aku dan
teman-teman ku terhening, mendengarkan mukadimah seorang ikhwan dibalik tabir itu. Semuanya
mendengarkan beliau berbicara di depan, namun untuk lebih menjaga kemuliaan
itu, tabir tidak boleh di buka, sehingga jemari ku yang gemulai ini menggenggam
pena dan mulai menari-nari di atas lembaran suci. Setiap aku dan teman-teman ku
mengikuti rapat ini , kami selalu membawa catatan kecil, agar agenda yang telah
di sampaikan tidak berceceran di tengah jalan nantinya. Perayaan Maulid Nabi
ini akan di adakan 1 minggu lagi.
“
apakah anti mendengarnya ? ana dan anti mendapatkan tugas yang sama, Seksi
Dekorasi “ semangat teman ku Rinita membuat aku lebih semangat untuk
mengagendakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini.
Rapat
pun selesai, adzan isya pun berkumandang merdu , aku dan teman-teman ku pergi
mengantri di tempat wudhu putri bertempat samping kanan masjid, semuanya terlihat mengantri dengan penuh sabar,
pembatas itu berada di mana-mana, karena kami selalu menjaga kemuliaan hati dan
akhlak itu. Tak sengaja ketika selesai mengambil air wudhu, mataku berpaling ke
hadapan pintu masuk , tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang terpancar sinar
di wajahnya, dia sangat tampan.
“ astagfirullahhaladziim, ampun kan
aku ya allah, tak bermaksud untuk menzinai hati ini “ lirih
batinku
***
Siang
ini aku berjalan dengan sahabatku Rinita Istiqomah untuk membeli perlengkapan
malam Maulid Nabi nantinya. Aku dan sahabatku berpisah , agar secepatnya dapat
mengumpulkan bahan yang di perlukan. Hingga akhirnya ada seorang laki – laki yang menyapaku.
“
assalamualaikum ukh, ana mau nanya
“
akh, kamu jadi membeli buku agenda untuk
sekolah mu “
Itulah
kalimat lantang yang aku dan Rinita dengar di balik rak kertas minyak itu.
“
anti mendengar suara itu? “ tanyaku kepada Rinita
“
iya ukh, ana mendengarnya, seperti tidak familiar lagi telinga ini mendengarnya
“
“ ternyata bukan aku saja yang
merasakan suara itu tidak familiar lagi namun sahabat ku juga merasakan nya “
batinku menderu, sejenak aku membayangkan wajah lelaki itu dan tiba-tiba teringat bahwa
allah bisa melihat segalanya.
“
astaghfirullahaladziim”
“
ada apa ukh? “ tanya Rinita dengan dahi nya yang mengkerut , heran melihatku
tiba-tiba mengucap istigfar di hadapan nya.
“
owalah, tidak ada apa-apa, ana lupa kalo kita harus mengejar waktu karena masih
banyak yang harus kita lakukan di rumah nantinya
Sesampai
di rumah aku merebahkan badan ini di atas kasur, bahkan pakaian yang aku kenakan
blum sempat aku lepas, suara lantang dan merdu itu selalu terngiang di telinga
ini, seperti ada banyak nyamuk di
sekeliling telingaku bernyanyi dengan
riang dan merdu. Pmikiran dan hati ini semakin kotor, akhirnya kulepas pakaian
ku, dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Memohon ampun kepada yang maha
agung atas segala yang aku lakukan siang hari ini.
Adzan
ashar itu akhirnya berkumandang, selepas sholat ashar aku segera mengambil al-quran di atas meja belajar ku,
untuk membacanya ayat demi ayat. Semakin
lama semakin tenang dan aku berharap kejadian siang tadi tidak terulang di kemudian harinya.
“
mayliza….. ayo makan malam dulu nak, ibu dan ayah akan pergi nantinya ke
cukuran adik sepupumu di kota baru “ suara ibu yang selalu menjadi penyejuk dan
pelengkap hidup itu akhirnya memanggilku untuk makan malam.
“
iya bu, tunggu sebentar “ akupun segera keluar dari kamar tidurku yang sedang
asik mengerjakan Pr.
Malam
pun terasa hening, hanya ada krikikkan dari suara jangkrik dan kodok di
sekeliling rumah ku. Dengan perut yang masih kekenyangan, aku mengambil ponsel
ku dan duduk manis di depan tv, sambil menelpon sahabatku Rinita Istiqomah.
“
halo, assalamualaiku”
“
waalaikumsalam”
“
ukh, kita besok masih mencari perlengkapan dekorasi kah? “tanyaku lirih, pelan
namun seperti memohon, karena aku tak berani pergi sendirian ke toko buku.
“
astagfirullahaladziim, afwan jiddan ukhti, anti siang nanti harus pergi
menemani ibu, beliau minta di temani kerumah paman” jawab sahabatku
“
oh, iya tidak apa-apa ukh, nanti ana usahakan pergi sendiri sajalah haha “
berusaha untuk ikhlas karena nanti akan berjalan di tengah keramaian sendirian.
“
iya, ukh afwan jiddan”
“
oke, salam untuk paman dan ibu di rumah ya, assalamualaikum “
“
waalaikumsalam”
Setelah
memutuskan telpon, aku kembali beranjak ke kamar ku, untuk melanjutkan Pr ku.
Tak lama kemudia ada pesan singkat yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tak
aku kenali.
“assalamualaikum ukhti, siang
kemarin ana tak sengaja melihat uang anti jatuh Rp.100.000.00 dan sekarang uang
itu masih ada dengan ana, besok akan ana kembalikan di meja kelas anti “
Yaaa.
Itulah isi pesan singkat dari nomor yang tak aku kenal, namun tak ku pikirkan
siapa yang sms, bahkan pulsa ku tidak mencukupi lagi untuk membalasnya. Tak
jadi bermesraan dengan Pr pikiranku melayang memikirkan uang yang jatuh itu, tak pernah aku memegang uang
sebanyak itu untuk pergi kesekolah, sejenak aku mengingat , “ astagfirullahaladziim,kemarin aku membawa
uang iuran masjid, untuk membeli perlengkapan dekorasi” batinku. Aku mulai
mengoreksi diri, mengapa sifat ceroboh ini tak kunjung usai menjadi sebuah
kebiasaan ku. Ternyata memang benar, uang iuran untuk membeli perlengkapan
Maulid Nabi SAW, aku pun menenangkan pikiran ini, dan mengambil air wudhu untuk
sholat isya.
06:45
Seperti
biasa aku pergi sekolah di antar oleh Ibu, sesampai di depan gerbang, semua
guru-guru yang piket pada hari itu , berdiri menyambut siswa nya. Biasanya
siswa yang datang pagi lah yang mendapatkan senyuman manis dan jabatan tangan
dari guru-guru di sini.
Tak
seperti biasa, hari ini kelas ku sudah terbuka, biasanya setiap aku datang ke
sekolah, pastilah ruang kelas ini belum di buka. Pagi ini berbeda dari sebelum
nya, ada salah seorang teman ku yang datang lebih dulu dari ku dan ternyata benar seseorang yang mengirimkan
pesan ke ponsel ku semalam benar meletakkan uang yang terjatuh di atas meja .
Aku semakin penasaran siapa yang berhati mulia itu.
“
anti melihat siapa yang menaruh amplop di atas meja ini? “ tanyaku kepada teman
yang datang lebih dulu dari ku
“
tidak, ana saja tidak mengetahui bahwa ada amplop di atas meja anti”
Tidak
ada yang mengetahui siapa yang menaruh, hanya untuk mengucapkan sepatah kata
terimakasih saja untuk nya, namun tidak ada yang mengetahui nya.
“
mungkin saja ibu retno mengetahui siapa
yang menaruh amplop putih ini “ batin ku,
“
mey, anti mau kemana? “ tanya rinita
“
ana mau mencari tahu siapa yang berbaik hati mengembalikan uang ana ukh “ jelas
ku tergesah-gesah dan langsung berlari kecil keluar kelas, dan segera kerumah
ibu retno.
“
assalamualaikum “ sambil mengetok pintu
“
wa’alaikumsalam, ada apa nak “
“
begini bu, apakah ibu melihat siapa yang meletakkan amplop putih di atas meja
saya”
“
oh amplop itu, tadi pagi ada seorang anak laki-laki yang meminta kunci kelas
kepada ibu nak, dan ibu lupa menanyakan dia kelas berapa dan namanya”
penjelasan singkat dari ibu retno
Sedikit
informasi dari ibu retno membuat aku dan rinita semakin penasaran siapa yang
menaruh amplop putih itu.
***
Sepulang
sekolah, aku berencana untuk kembali mencari perlengkapan dekorasi, kali ini
aku tidak berdua dengan sahabat ku, aku berjalan sendiri. Akupun berjalan
merunduk, agar tidak memancing nafsu adam ketika melihatku berjalan sendiri.
Sesampainya
di toko buku, mataku berpaling ke salah satu Al-quran yang ada di rak paling
atas, al-quran kecil berwarna biru langit , akupun mengambil al-quran itu dan
duduk manis di kursi yang telah di sediakan di toko buku tersebut, dan
membacanya.
“
assalamualaikum ukhti” seperti suara yang tidak familiar lagi, akupun melihat
siapa yang memanggilku.
“
waalaikumsalam akhi” sahut salam ku, ketika aku mengetahui yang memanggilku
seorang laki-laki, aku tak berani lagi melihat matanya
“
uang yang aku letakkan di atas meja anti, sudah di terima kan? “ tanya lelaki
itu lirih
Ketika
dia menanyakan hal itu , wajahku terangkat dan mengucapkan terimakasih
kepadanya, sampai akhirnya ia sendiri kebingungan dengan tingkahku.
“
terimakasih akh”
Sepata
demi patah kami pun melanjutkan obrolah itu, ternyata dialah seorang lelaki
yang suaranya tidak familiar lagi di telingaku, ternyata dia yang berbicara
dibalik tabir, ternyata dia yang berbicara di balik rak buku, ternyata dia yang
menemui uang ku yang jatuh, ternyata dia yang selama ini ku cari. Aku merenungi
wajahnya, ku pandang hidungnya yang bangir, ku resapi suaranya yang lantang
hingga aku terhayun terbawa hembusan angin.
“
astagfirullahhaladziim, ya allah apa yang aku lakukan, aku mengingat hal yang
tak sewajarnya aku ingat, ma’afkan aku ya Allah” batinku tersentak
Sembari
melihat al-quran aku secepatnya meninggalkan tempat itu karena aku tak mau berlama-lama terperangkap
oleh perzinaan hati dan pikiran.
***
Malam
yang di tunggu – tunggu akhirnya datang, Maulid Nabi akan segera dimulai, semua
tamu undangan duduk damai di dalam masjid, menikmati rangkaian acara demi
acara, mala mini yang jadi pembawa acaranya adalah laki – laki yang aku temui
di toko buku kemarin, sampai detik ini aku tidak mengetahui siapa namanya,
sepertinya dia anak baru di komplek ini.
“
Mey, suara laki – laki itu sama seperti suara laki – laki yang di toko buku
kemarin, benar tidak?“ tanya Rinita
“
iya ukh, anti benar dan dia juga yang sudah mengembalikan uang ana di atas meja
kelas”
“
sungguh? Subhanallah, mulianya hati lelaki itu, siapa namanya ukh? “ tanya
Rinita sambil menghadapkan wajah dengan dahi mengkerut ke hadapanku
“
naahhh, itu dia, ana lupa menanyakannya, yasudahlah tidak baik bergunjing di
masjid hehe” tegasku mengalihkan pembicaraan.
Rangkaian
demi rangkaian pun berjalan, akhirnya acara Maulid Nabipun berjalan dengan
lancer, di pintu keluar masjid aku melihat laki – laki itu sedag menyapu sisa –
sisa snack dari para tamu undangan.
“
assalamualaikum ukhti “
“
waalaikumsalam, ada apa akh?” jawabku malu – malu
ternyata
dengan tak di duga,laki – laki itu menanyakan namaku. Nama laki – laki yang
berjenggot tipis itu Yubi Sholahudin , nama yang sangat cocok dengan akhlak nya
yang dermawan, dan suaranya yang lantang, semua rasa penasaran itu terjawab
sudah. Bermula dari persiapan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW , dan berakhir di
pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.rasa penasaran itu berlabuh pada
^The
End^