Senja mulai pergi menjemput malam, langit di ujung
cakrawala kini tak lagi membiru. perlahan berubah menjadi warna jingga yang
membuat mata tak mampu berkedip akan indahnya, sorak keceriaan awan menarik
raja siang untuk bersembunyi karena ratu malam akan berganti menyinari bumi,
segala yang ada di alam, kini searah kembali keasalnya , langit dan bumi seakan
hening karena tabuh telah berbunyi menggemparkan alam yang sunyi ,berkumandanglah
suara adzan hening menandakan kehormatan kepada sang maha pencipta Allah s.w.t.
Tak ingin rasanya aku membuang waktu untuk menunda pertemuanku pada-Nya,
sebagai ucap syukurku karena masih dapat melihat indah kekuasaan-Nya sore ini.
“kak Aisyah! “
Aku menoleh ketika namaku di panggil dari kejauhan, ia
menghentikan langkahku seolah ia akan mengejarku dan ternyata ia adalah Amel ,
anak muridku di TPA (tempat pengajian anak).
“kak, malam sabtu ini apa materi kita? “ gumam Amel
ketika kakinya berhasil menjajaki langkahku. “ kita belajar tentang bersyukur,
bawa buku dan pena kan ? “ jawabku sembari berjalan menuju ke musholah. Sejak
SMP aku sangat ingin menjadi seorang
guru, entah mengapa setiap kali aku melihat seorang guru yang sedang
menerangkan pelajaran didepan kelas aku menjadi terkagum-kagum melihat
keikhlasannya dalam membagi ilmu, kini aku sudah menginjak semester terakhir di
bangku SMA , aku sangat ingin sekali menjadi mahasiswa di Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI). Segala cita-citaku sudah ku catat di dinding
kamarku. Di musholah inilah aku perlahan mulai melatih lisan,dan sikap agar
terbiasa menahan sabar dengan puluhan jenis sifat para peniti masa depan.
“ disini ada yang tahu siapa yang menciptakan langit
dan bumi ? “ tanyaku kepada anak-anak yang terlihat sangat fokus melihat gambar
ku dipapan tulis. Serentak mereka menjawab “ALLAH !! “. Dari luar kaca terlihat
bayang seorang anak yang hendak menuju ke musholah, mataku mengikuti bayangan
itu sampai akhirnya muncul di permukaan pintu musholah dengan raut wajahnya
yang pucat.
”Assalamualaikum..maaf Sasa terlambat kak, tadi baru
pulang dari les “ salamnya dari depan
pintu dengan langkahnya yang terseret-seret berusaha untuk menjabati tanganku.
“waalaikumsalam, sakit ya parasmu pucat Sa? ” tanyaku lirih “ punggung Sasa
terasa nyeri sekali kak” jawabnya dengan wajah pucat . Aku segera
mempersilahkannya untuk duduk dan bergabung dengan teman-temannya, Sasa adalah
seorang anak mualaf yang baru beberapa bulan belajar membaca Al-Quran dan
ibadah sholat, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sasa sangat dekat
denganku, karena eratnya ukhuwah islamiah itu ayah dan ibu sasa juga menjadi
mualaf.
Selesai dari mengajar aku melihat Sasa sedang menunggu
jemputan, dengan wajahnya yang masih pucat ,duduk manis didepan musholah sambil
mengulangi hafalan ayat pendek, melihat heningnya malam tak satupun aku melihat
ada keramaian didekat musholah yang ada hanya nyanyian jangkrik. Langkahku tak hanya sebatas pintu
saja, perlahan aku menghampirinya.
“ehem, sepertinya asik sekali menghafal, boleh kakak
ganggu tidak ? “
“ boleh kok, Sasa sebenarnya takut nunggu sendirian,
makanya sambil baca-baca ayat Allah, karena Sasa yakin kalo Sasa nggak sendiri
disini “ jawabnya. sambil menatapi langit malam yang dipenuhi gemerlip bintang,
Sasa bercerita tentang keinginannya yang gigih hingga aku terharu mendengarnya.
“ coba kakak lihat , dilangit ada banyak bintang dan
satu bulan, tapi di antara semuanya hanya satu bintang yang paling terang “ aku
menjawab “ ya kakak melihatnya Sa, memangnya ada apa? Semua itu memang Allah
ciptakan untuk menghiasi langit “ .
“ bulan itu adalah Sasa, jutaan bintang itu adalah
teman-teman di TPA, dan yang paling terang itu adalah kakak “ jawabnya sambil menunjuk bintang dan bulan yang
ada di langit.
“ kenapa harus kakak Sa? Harusnya orangtuamu? “
tanyaku dengan penuh heran. “ yaa, karena kakak yang mengajari Sasa untuk
membaca AL-Quran , Sasa janji akan membuktikan kalo Sasa bisa menjadi pemenang
MTQ dan penghargaannya Sasa persembahkan untuk kakak “ jawab Sasa sambil
memeluk tubuhku dengan erat. Suhu badan Sasa sangat panas, raut wajahnya tambah
memucat. Pelukan yang erat tiba-tiba melemas dengan sendirinya, ternyata Sasa
pingsan dalam pelukanku. Aku melolong ke haluan langit untuk meminta
pertolongan. Namun yang datang hanya satu orang bapak tua yang membantu
menggendong Sasa ke musholah. Dari kejauhan aku melihat ayah Sasa telah datang
menjemput, terkejut melihat kerumunan masyarakat di musholah, ayah Sasa langsung
membawa Sasa kerumah sakit. Aku hanya bisa berdoa semoga penyakit Sasa bisa
secepatnya di angkat oleh Allah s.w.t dan menjadi keberkahan sebagai obat
penggugur dosa aamiin.
***
Langit yang membiru membuat pancaran sinarnya menjadi
tolak ukur semangatku dipagi ini, dengan sepotong kue di tangan aku bergegas ke
sekolah karena hasil kelulusan akan di umumkan, jantungku berdegub amat kencang
seakan kaki ini tak merasakan lagi krikil-krikil yang berpejalan di tanah.
Pengumuman kelulusan
akan di tempel di mading sekolah pada jam 10:00 pagi hari ini harap bersabar
dan perbanyak berdoa
Begitu bunyi pesan dari wakil kurikulum yang di tempel
di mading sekolah, jam di handphoneku
menunjukkan jam tujuh pagi, sekolah terlihat sangat sepi. Tenggelam dalam
lamunanku, tiba-tiba aku teringat dengan Sasa. Aku berjalan menyusuri lorong ,
namun ini bukan lorong yang biasa, lorong ini sangat asing. Suasananya penuh
dengan kesedihan,kesakitan, dan penuh dengan kepiluan. Yaa, aku sedang berjalan
di lorong rumah sakit. akhirnya Sasa dirujuk kerumah sakit setelah keadaannya
yang menghawatirkan ketika pingsan malam itu.
Sasa sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri,
aku bertanya kepada orangtua Sasa apa sebenarnya penyakit yang diderita Sasa,
namun mereka tidak mau menjawab, mereka hanya menjawab Sasa hanya sakit tipes
biasa karena kelelahan. Namun rasa penasaranku tidak sampai disini. Ketika
suster masuk ke dalam ruangan Sasa, aku
melihat suster itu membuang bungkus obat yang Sasa minum ke dalam tong sampah.
Tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di sana, aku membawa bungkus itu ke
poliklinik , ketika aku memberikan bungkus obat itu kepada dokter, ia langsung
bertanya “ siapa yang mengkonsumsinya? Kamu ? “ aku hanya bisa menggelengkan kepala
dan menjawab itu di konsumsi oleh adikku, dokter itu segera menjelaskan tentang
obat itu dan apa jenis penyakit yang di derita. Akhirnya aku mengetahui apa
sebenarnya yang di derita oleh sasa.
***
Jam 10:00 aku segera ke sekolah, ternyata hasilnya seluruh
anak SMA ku lulus 100% dengan penuh syukur aku langsung bersujud. Rasanya bercampur
menjadi satu, bahagia ketika lulus dari SMA , kecewa karena orangtua Sasa tidak
mau memberitahu penyakit yang diderita Sasa.
***
Aku termenung melihat badannya terkujur lemas dengan
selang oksigen yang melingkar di wajahnya, aku menetsakan air mata hingga aku
merasakan sentuhan tangannya merayap di pipiku, “ Kakak ga boleh nangis? Oh ya,
kakak Lulus ? jadi pengumuman SNMPTNnya kapan kak? “ gumam Sasa sambil mengelap
air mataku. “ alhamdulillah kakak lulus sayang, Sasa boleh kakak bicara sesuatu
? “ tanyaku sambil menggenggam tangannya yang lembut usai mengelap air mataku.
“ Sasa kenapa gak pernah cerita sih kalo Sasa kena kanker darah ? “ kedua
orangtua Sasa kelihatan bingung karena tak mengira aku tau tentang penyakit
Sasa. mereka mendekatiku ,mengajakku keluar ruangan dan dengan ekspresi tenang
mereka menjawab “ untuk apa nak? Kanker bukanlah sesuatu hal yang harus di
pamerkan “ jawab ayah Sasa “ tapi bukan begini caranya om, setidaknya oom dan
tante cerita sama keluargaku, atau oom selama ini tidak menganggap kami ini
siapa-siapa? Sampai enggan berbagi seperti itu ? “
“ bukan begitu, kami sudah menganggapmu lebih dari
saudara, kami tidak mau merepotkan keluargamu nak, kami selalu berdoa semoga
Allah memberikan yang terbaik untuk Sasa “
“ kalo memang melebihi saudara, izinkan aku untuk
membantu Sasa om, untuk sembuh dari penyakit ini , aku rela menjadi pendonor
sum-sum tulang belakang demi Sasa” aku berusaha meyakini mereka dengan
kesungguhanku. “ jangan nak, ini resikonya sangat tinggi “ kedua orangtua Sasa
selalu keras tidak menginginkan aku untuk mendonorkan sum-sum tulang belakang,
mereka merasa merekalah yang berhak mendonor bukan aku.
Akhirnya aku dan kedua orangtua Sasa melaksanakan tes darah, walaupun pada
awalnya kedua orangtua sasa bersih keras menolak, namun dengan kesungguhanku,
mereka mengizinkan aku untuk ikut tes darah.
“hasilnya akan di beritahu setelah 1minggu kedepan ya
pak, karena banyak yang harus di uji untuk pendonoran ini “ begitulah kata
dokter ketika kami keluar dari pintu laboratorium
***
Setelah beberapa minggu sasa di rawat akhirnya aku
bisa melihatnya kembali di musholah, seperti biasa wajahnya selalu tampak
pucat,pendonoran akan dilakukan apabila obat yang diberikan dokter telah habis
dan hasil dari cek up menyatakan cocok. Sasa yang kulihat semakin lancer
membaca Al-Quran dan sesekali ia meniru lantunan seorang qori yang
mendayu-dayu.
“Anak-anak dalam rangka memperingati hari kelahiran
nabi Muhammad s.a.w kakak dapat undangan kalo RT kita masuk dalam finalis lomba
MTQ “ anak-anak bersorak kegirangan mengacungkan tangan kanannya berlomba-lomba
ingin mengikuti lomba ini tak terkecuali Sasa yang mengemis-ngemis agar namanya
di catat dalam lembar pendaftaran. Aku yakin Sasa pasti bisa memenangkan lomba
itu.
Sudah 2 hari ini Sasa dan teman-temannya yang lain
latihan membaca Al-Quran layaknya qori nasiona aku melihat Sasa sudah sangat
mantap dengan bacaannya . Pada hati ke 3 dan ke 4 aku tidak melihat Sasa hadir
di musholah untuk latihan, ternyata Amel teman dekat Sasa baru sempat memberitahu.
Bahwa Sasa sakit, jadi tidak bisa latihan.
Aku kembali berjalan masih melewati lorong namun
lorong ini penuh dengan kegelapan, tanpa cahaya , hanya suara serangga malam
yang kudengar, ya aku berjalan menuju rumah Sasa. Dari kejauhan aku melihat ada
mobil ambulan yang terparkir didepan rumah Sasa dengan keadaan siap berangkat.
Tanpa berfikir aku langsung bergegas lari bayangan wajah sasa tak hilang dari
fikiranku, perasaanku tidak enak. Dugaanku benar. Lagi-lagi Sasa pingsan ,
dengan mukenah yang masih menyelimuti tubuhku, aku pergi bersama kedua orangtua
Sasa ke rumah sakit. tampak samar-samar dari luar kaca mobil terlihat ayah dan
ibuku juga ikut mengiringi ambulan. dokter mengatakaan bahwa keadaan Sasa
sangat melemah. Dan bertepatan dengan keluarnya hasil cek darah yang di lakukan
satu minggu yang lalu. Tak lama aku , ayah, ibu dan kedua orangtua Sasa duduk
menunggu Sasa sadar. Dokter memanggilku ibu,dan ayah Sasa untuk
membicarakan hasil tes minggu lalu. “ setelah tes minggu lalu, ternyata kadar
kecocokan darah kalian sama cocoknya, tapi saya sarankan saudari Aisyah saja
yang menjadi donor, karena tingkat kecocokannya jauh lebih tinggi di bandingkan
bapak dan ibu, sehingga mengurangi resiko berbahaya terhadapat pendonor, apakah
anda kakaknya Sasa?” ayah dan ibu Sasa menoleh kepadaku dengan wajah yang
berlinang airmata “ bukan dok, Aisyah ini tetangga kami, namun sudah kami
anggap sebagai saudara” jawab ibu sambil mengusap kepalaku “ subhanalllah,
inilah kuasa Allah bu, berkat usaha dan
keikhlasan inilah Allah mengabulkan niat baikmu nak“ menggeleng heran dan
takjub. “ Dokter salah,memang kami bukan saudara kandung. inilah yang dinamakan
ukhuwah islamiyah, karena ukhuwah itu cinta. Cintalah yang membuat kami
memiliki kecocokan. Dan atas izin Allah ini semua terjadi “ semua terdiam
karena mendengar jawabanku , mungkin dokter itu belum pernah mendapatkan
pendonor yang sebahagia raut wajahku. Orangtuaku yang baru mengetahui hal ini
terkejut. Dengan berbagai bujuk dan rayuan. Akhirnya mereka mengikhlaskanku
melakukan operasi ini, karena mereka tau aku sudah dewasa dan mampu membuat
keputusan sendiri.
Setelah Sasa sadar aku dan Sasa akhirnya dibawa
keruangan operasi, ini kali pertama aku memasuki ruangan operasi, ternyata tak
seburuk yang aku bayangkan.ketika dokter
dan suster sedang mempersiapkan peralatan bedah, aku di panggil oleh Sasa.
“ Kak Aisyah “ sasa menoleh ke arahku seakan tak sanggup
lagi untuk berkata apa-apa
“ iya sayang
ada apa? “
“ terimaksih ya
kak, kakak memang sangat baik aku tidak
tau bagaimana cara membalasnya. Aku janji minggu depan aku akan memenangkan MTQ
itu untuk kakak “ sambil meneteskan air mata
“ iya sayang, kita berdoa semoga kita berdua di
lindungi oleh Allah untuk menjalankan operasi ini dengan lancer “ gumamku untuk
menenangkan sasa sebelum operasi.
Suster segera menarik tabir berwarna putih itu operasi
akan segera dimulai, suster menyuruhku untuk mengubah poisi tubuh menjadi
telungkup dan menyuntik ku, perlahan mataku terasa berat dan semua menjadi
gelap.
***
Operasi berjalan dengan lancer, aku dan Sasa kini
sama-sama terbaring di dalam satu ruangan. Dokter menyaraniku agar tidak
terlalu banyak aktivitas. Karena tubuhku tidakb bisa kecapekan.
5 hari setelah operasi di lakukan. Sasa dengan penuh
keyakinan mengikuti lomba MTQ itu, dengan korsi roda yang selalu ku bawa
kemana-mana, aku duduk posisi paling depan, untuk menyaksikan Sasa karena dia
janji akan mempersembahkan kemenangannya untukku. aku di temani ayah dan ibu
serta kedua orangtua sasa di barisan paling depan.
“peserta selanjutnya dari RT 22 desa mendalo darat
atas nama Sasa Nabila Cantika Putri di persilahkan “ gumam pembawa acara dari atas
pentas.
Ya panggilan itulah yang aku nanti. Seorang anak
dengan keinginannya yang besar untuk mentauladani Al-Quran kini berada di atas
panggung yang megah. Di saksika para petinggi daerah dan seluruh anak TPA ,
“yaa aku bangga denganmu Sa” batinku lirih. Namun ntah mengapa kepala ini
pusing berat sehingga tak mampu untuk menahannya jantungku menyesak, hidungku
mengeluarkan darah , Akhirnya aku pergi meninggalkan acara besar itu, dan
terbaring di rumah sakit. semua terasa sangaat gelap
***
Tanah itu masih basah , di atasnya ditaburi dengan
bunga-bunga yang wangi semerbak, nama Aisyah Lailatul Islami terukir indah di
atas batu nisan yang tertancap rapi di atas tanah , sebuah piala, seamplop uang
dan selembar kertas tercetak nama Sasa Nabila Cantika Putri semua tersusun rapi
di atas makam itu. “Aisyah di jemput oleh yang maha kuasa lebih dulu setelah
mengalami masa kritis malam itu” jelas ibu Aisyah sendu sambil menghapus air matanya
dengan penuh keikhlasan . Dan kini aku duduk di samping batunisan “aku
memenangkannya kak “ ucapku sambil meneteskan airmata, aku tak tau harus
melakukan apa. Aku hanya bisa berdoa semoga kak Aisyah bisa diterima di sisi
Allah di tempat yang sangat mulia. Seorang gadis cantik yang baru tamat SMA
dengan kemuliaannya mengajariku dan cita-citanya menjadi seorang guru, aku
berhasil memenangkan lomba MTQ ini. Aku berjanji akan selalu menjaga kedua
orangtua kak Aisyah sebagai orangtuaku sendiri, menyayangi mereka dan meneruskan
cita-citamu, Aku janji kak....
^TAMAT^