Rabu, 09 April 2014

MENGENAL NAMANYA


  
Sore ini suasana di masjid sungguh indah, matahari yang mulai bersembunyi di balik awan, memancarkan warna merah jingga , semua ciptaan-Nya terbang dengan indah di atas langit, untuk kembali ke habitatnya, menandakan hari semakin petang. Aku dan teman-temanku lepas magrib ini akan menghadiri undangan rapat guna merencanakan kegiatan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Aku pergi melangkah dengan pakaian yang sopan, kain yang menutupi kepala hingga dibawah dada, dan rok yang menutupi hingga ujung jari kakiku. Dan kulihat jam tangan ku menunjukkan pukul 19:00, suara canda teman-temanku sudah semakin dekat dengan pintu rumahku, dan alunan murotal surah Al-baqaroh melantun indah hingga terdengar oleh  seluruh rumah di perumahan ini.
“assalamualaikum ukh, ayo kita pergi “ sahutan salam oleh teman ku terdengar hingga gendang teliga ini berdenging mendengarnya
“ waalaikumsalam ukh, ayo kita pergi “
Sesampainya di masjid, hiruk pikuk keramaian dari anak-anak  remaja terdengar. Terlihat tabir panjang yang membatasi antara wanita dan laki-laki, dan terdengar pula suara yang bergema, lantang, dan tegas di balik tabir itu, rapat akan segera di buka. Aku dan teman-teman ku terhening, mendengarkan mukadimah  seorang ikhwan dibalik tabir itu. Semuanya mendengarkan beliau berbicara di depan, namun untuk lebih menjaga kemuliaan itu, tabir tidak boleh di buka, sehingga jemari ku yang gemulai ini menggenggam pena dan mulai menari-nari di atas lembaran suci. Setiap aku dan teman-teman ku mengikuti rapat ini , kami selalu membawa catatan kecil, agar agenda yang telah di sampaikan tidak berceceran di tengah jalan nantinya. Perayaan Maulid Nabi ini akan di adakan 1 minggu lagi.
“ apakah anti mendengarnya ? ana dan anti mendapatkan tugas yang sama, Seksi Dekorasi “ semangat teman ku Rinita membuat aku lebih semangat untuk mengagendakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini.
Rapat pun selesai, adzan isya pun berkumandang merdu , aku dan teman-teman ku pergi mengantri di tempat wudhu putri bertempat samping kanan masjid, semuanya  terlihat mengantri dengan penuh sabar, pembatas itu berada di mana-mana, karena kami selalu menjaga kemuliaan hati dan akhlak itu. Tak sengaja ketika selesai mengambil air wudhu, mataku berpaling ke hadapan pintu masuk , tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang terpancar sinar di wajahnya, dia sangat tampan.
“ astagfirullahhaladziim, ampun kan aku ya allah, tak bermaksud untuk menzinai hati ini “ lirih batinku
***
Siang ini aku berjalan dengan sahabatku Rinita Istiqomah untuk membeli perlengkapan malam Maulid Nabi nantinya. Aku dan sahabatku berpisah , agar secepatnya dapat mengumpulkan bahan yang di perlukan. Hingga akhirnya ada seorang  laki – laki yang menyapaku.
“ assalamualaikum ukh, ana mau nanya
 akh, kamu jadi membeli buku agenda untuk sekolah mu “
Itulah kalimat lantang yang aku dan Rinita dengar di balik rak kertas minyak itu.
“ anti mendengar suara itu? “ tanyaku kepada Rinita
“ iya ukh, ana mendengarnya, seperti tidak familiar lagi telinga ini mendengarnya “
“ ternyata bukan aku saja yang merasakan suara itu tidak familiar lagi namun sahabat ku juga merasakan nya “ batinku menderu, sejenak aku membayangkan  wajah lelaki itu dan tiba-tiba teringat bahwa allah bisa melihat segalanya.
“ astaghfirullahaladziim”
“ ada apa ukh? “ tanya Rinita dengan dahi nya yang mengkerut , heran melihatku tiba-tiba mengucap istigfar di hadapan nya.
“ owalah, tidak ada apa-apa, ana lupa kalo kita harus mengejar waktu karena masih banyak yang harus kita lakukan di rumah nantinya
Sesampai di rumah aku merebahkan badan ini di atas kasur, bahkan pakaian yang aku kenakan blum sempat aku lepas, suara lantang dan merdu itu selalu terngiang di telinga ini, seperti  ada banyak nyamuk di sekeliling telingaku  bernyanyi dengan riang dan merdu. Pmikiran dan hati ini semakin kotor, akhirnya kulepas pakaian ku, dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Memohon ampun kepada yang maha agung atas segala yang aku lakukan siang hari ini.
Adzan ashar itu akhirnya berkumandang, selepas sholat ashar aku segera  mengambil al-quran di atas meja belajar ku, untuk membacanya ayat demi  ayat. Semakin lama semakin tenang dan aku berharap kejadian siang tadi  tidak terulang di kemudian harinya.
“ mayliza….. ayo makan malam dulu nak, ibu dan ayah akan pergi nantinya ke cukuran adik sepupumu di kota baru “ suara ibu yang selalu menjadi penyejuk dan pelengkap hidup itu akhirnya memanggilku untuk makan malam.
“ iya bu, tunggu sebentar “ akupun segera keluar dari kamar tidurku yang sedang asik mengerjakan Pr.
Malam pun terasa hening, hanya ada krikikkan dari suara jangkrik dan kodok di sekeliling rumah ku. Dengan perut yang masih kekenyangan, aku mengambil ponsel ku dan duduk manis di depan tv, sambil menelpon sahabatku Rinita Istiqomah.
“ halo, assalamualaiku”
“ waalaikumsalam”
“ ukh, kita besok masih mencari perlengkapan dekorasi kah? “tanyaku lirih, pelan namun seperti memohon, karena aku tak berani pergi sendirian ke toko buku.
“ astagfirullahaladziim, afwan jiddan ukhti, anti siang nanti harus pergi menemani ibu, beliau minta di temani kerumah paman” jawab sahabatku
“ oh, iya tidak apa-apa ukh, nanti ana usahakan pergi sendiri sajalah haha “ berusaha untuk ikhlas karena nanti akan berjalan di tengah keramaian sendirian.
“ iya, ukh afwan jiddan”
“ oke, salam untuk paman dan ibu di rumah ya, assalamualaikum “
“ waalaikumsalam”
Setelah memutuskan telpon, aku kembali beranjak ke kamar ku, untuk melanjutkan Pr ku. Tak lama kemudia ada pesan singkat yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tak aku kenali.
“assalamualaikum ukhti, siang kemarin ana tak sengaja melihat uang anti jatuh Rp.100.000.00 dan sekarang uang itu masih ada dengan ana, besok akan ana kembalikan di meja kelas anti “
Yaaa. Itulah isi pesan singkat dari nomor yang tak aku kenal, namun tak ku pikirkan siapa yang sms, bahkan pulsa ku tidak mencukupi lagi untuk membalasnya. Tak jadi bermesraan dengan Pr pikiranku melayang memikirkan uang  yang jatuh itu, tak pernah aku memegang uang sebanyak itu untuk pergi kesekolah, sejenak aku mengingat , “ astagfirullahaladziim,kemarin aku membawa uang iuran masjid, untuk membeli perlengkapan dekorasi” batinku. Aku mulai mengoreksi diri, mengapa sifat ceroboh ini tak kunjung usai menjadi sebuah kebiasaan ku. Ternyata memang benar, uang iuran untuk membeli perlengkapan Maulid Nabi SAW, aku pun menenangkan pikiran ini, dan mengambil air wudhu untuk sholat isya.
06:45
Seperti biasa aku pergi sekolah di antar oleh Ibu, sesampai di depan gerbang, semua guru-guru yang piket pada hari itu , berdiri menyambut siswa nya. Biasanya siswa yang datang pagi lah yang mendapatkan senyuman manis dan jabatan tangan dari guru-guru di sini.
Tak seperti biasa, hari ini kelas ku sudah terbuka, biasanya setiap aku datang ke sekolah, pastilah ruang kelas ini belum di buka. Pagi ini berbeda dari sebelum nya, ada salah seorang teman ku yang datang lebih dulu dari ku dan  ternyata benar seseorang yang mengirimkan pesan ke ponsel ku semalam benar meletakkan uang yang terjatuh di atas meja . Aku semakin penasaran siapa yang berhati mulia itu.
“ anti melihat siapa yang menaruh amplop di atas meja ini? “ tanyaku kepada teman yang datang lebih dulu dari ku
“ tidak, ana saja tidak mengetahui bahwa ada amplop di atas meja anti”
Tidak ada yang mengetahui siapa yang menaruh, hanya untuk mengucapkan sepatah kata terimakasih saja untuk nya, namun tidak ada yang mengetahui nya.
mungkin saja ibu retno mengetahui siapa yang menaruh amplop putih ini “ batin ku,
“ mey, anti mau kemana? “ tanya rinita
“ ana mau mencari tahu siapa yang berbaik hati mengembalikan uang ana ukh “ jelas ku tergesah-gesah dan langsung berlari kecil keluar kelas, dan segera kerumah ibu retno.
“ assalamualaikum “ sambil mengetok pintu
“ wa’alaikumsalam, ada apa nak “
“ begini bu, apakah ibu melihat siapa yang meletakkan amplop putih di atas meja saya”
“ oh amplop itu, tadi pagi ada seorang anak laki-laki yang meminta kunci kelas kepada ibu nak, dan ibu lupa menanyakan dia kelas berapa dan namanya” penjelasan singkat dari ibu retno
Sedikit informasi dari ibu retno membuat aku dan rinita semakin penasaran siapa yang menaruh amplop putih itu.
***
Sepulang sekolah, aku berencana untuk kembali mencari perlengkapan dekorasi, kali ini aku tidak berdua dengan sahabat ku, aku berjalan sendiri. Akupun berjalan merunduk, agar tidak memancing nafsu adam ketika melihatku berjalan sendiri.
Sesampainya di toko buku, mataku berpaling ke salah satu Al-quran yang ada di rak paling atas, al-quran kecil berwarna biru langit , akupun mengambil al-quran itu dan duduk manis di kursi yang telah di sediakan di toko buku tersebut, dan membacanya.
“ assalamualaikum ukhti” seperti suara yang tidak familiar lagi, akupun melihat siapa yang memanggilku.
“ waalaikumsalam akhi” sahut salam ku, ketika aku mengetahui yang memanggilku seorang laki-laki, aku tak berani lagi melihat matanya
“ uang yang aku letakkan di atas meja anti, sudah di terima kan? “ tanya lelaki itu lirih
Ketika dia menanyakan hal itu , wajahku terangkat dan mengucapkan terimakasih kepadanya, sampai akhirnya ia sendiri kebingungan dengan tingkahku.
“ terimakasih akh”
Sepata demi patah kami pun melanjutkan obrolah itu, ternyata dialah seorang lelaki yang suaranya tidak familiar lagi di telingaku, ternyata dia yang berbicara dibalik tabir, ternyata dia yang berbicara di balik rak buku, ternyata dia yang menemui uang ku yang jatuh, ternyata dia yang selama ini ku cari. Aku merenungi wajahnya, ku pandang hidungnya yang bangir, ku resapi suaranya yang lantang hingga aku terhayun terbawa hembusan angin.
“ astagfirullahhaladziim, ya allah apa yang aku lakukan, aku mengingat hal yang tak sewajarnya aku ingat, ma’afkan aku ya Allah” batinku tersentak
Sembari melihat al-quran aku secepatnya meninggalkan tempat itu  karena aku tak mau berlama-lama terperangkap oleh perzinaan hati dan pikiran.
***
Malam yang di tunggu – tunggu akhirnya datang, Maulid Nabi akan segera dimulai, semua tamu undangan duduk damai di dalam masjid, menikmati rangkaian acara demi acara, mala mini yang jadi pembawa acaranya adalah laki – laki yang aku temui di toko buku kemarin, sampai detik ini aku tidak mengetahui siapa namanya, sepertinya dia anak baru di komplek ini.
“ Mey, suara laki – laki itu sama seperti suara laki – laki yang di toko buku kemarin, benar tidak?“ tanya Rinita
“ iya ukh, anti benar dan dia juga yang sudah mengembalikan uang ana di atas meja kelas”
“ sungguh? Subhanallah, mulianya hati lelaki itu, siapa namanya ukh? “ tanya Rinita sambil menghadapkan wajah dengan dahi mengkerut ke hadapanku
“ naahhh, itu dia, ana lupa menanyakannya, yasudahlah tidak baik bergunjing di masjid hehe” tegasku mengalihkan pembicaraan.
Rangkaian demi rangkaian pun berjalan, akhirnya acara Maulid Nabipun berjalan dengan lancer, di pintu keluar masjid aku melihat laki – laki itu sedag menyapu sisa – sisa snack  dari para tamu undangan.
“ assalamualaikum ukhti “
“ waalaikumsalam, ada apa akh?” jawabku malu – malu
ternyata dengan tak di duga,laki – laki itu menanyakan namaku. Nama laki – laki yang berjenggot tipis itu Yubi Sholahudin , nama yang sangat cocok dengan akhlak nya yang dermawan, dan suaranya yang lantang, semua rasa penasaran itu terjawab sudah. Bermula dari persiapan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW , dan berakhir di pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.rasa penasaran itu berlabuh pada
^The End^

Selasa, 08 April 2014

IBU KAU DIMANA ?

IBU KAU DI MANA ?

Ahmad Azzam itulah namaku yang diberikan oleh Ibu asuh di panti ini , sejak kecil aku tidak tahu dimana keberadaan Ibu kandung ku, sepenggal cerita yang kudengar dari Ibu asuhku di panti ini, aku di temukan di depan pintu panti asuhan, dengan sepucuk surat di atas tubuhku, bertinta merah dan segulung uang limapuluh ribuan yang isinya “  tolong rawat anak ini dengan penuh kasih “  aku yang mendengarkan cerita itu menangis, apakah Ibuku telah mati dibunuh atau kah masih hidup. Kini usiaku masih 17th  aku duduk di salah satu bangku Sekolah Menengah  Atas Kota Jambi. Di bagian bahu tubuhku ada tanda kelahiran, yaitu bercak coklat yang berbentuk huruf R.

            “Anak – anak ayo bangun.. !! ” suara yang merdu itu kembali aku dengar, Ibu yang setiap pagi membangunkanku , dan membuatkanku sarapan sebelum berangkat ke sekolah, senang sekali dan kami sangat bangga dengan Ibu asuh di panti ini.

“ Ayo bangun anak –anak kita sholat subuh berjamaah, Mad kamu yang jadi imam nya yah”

Biasanya setiap sholat fardu, yang menjadi imam dipanti ini aku sendiri, Ibu dari kecil sudah mengajarkanku tentang agama.

Awan mulai menarik sinar mentari yang indah pagi ini , mentari itu selalu tersenyum, menyapa semua umat yang ada di bumi Allah ini, ku pandangi jam tanganku ternyata waktu masuk sekolah tinggal 5menit lagi , untungnya rumahku dekat dengan sekolah.

“ Hari ini kita akan mempelajari tentang Hubungan Internasional” tegas guruku didepan kelas.

Aku sangat menyukai pelajaran PKN karena cita – citaku adalah menjadi sosok pemimpin. Di pelajaran inilah aku banyak mempelajari tentang motto dunia seperti pengorbanan para pahlawan yang telah mendahului kita. aku bercita – cita  menjadi sepereti mereka, bermanfaat bagi orang banyak , dan di kenang secara terhormat.

Sembari Ibu guru melanjutkan pelajaran, tak lama kemudian bel istirahat pertama berbunyi, aku dan teman sebangku ku segera pergi ke musholah sekolah, biasanya kami ketika istirahat pertama , melakukan sholat dhuha bersama. Selama berjalan Abdul Aziz temanku, bertanya tentang perguruan tinggi.

“ Mad tak terasa sebentar lagi kita akan duduk di bangku perguruan tinggi , kita – kira kamu mau menyambung dimana Mad?” tanya Abdul sambil bercanda gurau di tempat wudhu laki – laki .

“ hmm, aku belum tahu  Dul, lulus dari Sekolah Menengah Atas saja aku sudah sangat bersyukur dengan yang kuasa,kalo kamu?” tanyaku lirih dan agak sedikit minder.

“ aku insyaallah akan melanjutkan ke ITB Mad, orangtua ku yang memaksa aku masuk ITB”

“ bersyukurlah Dul, kau masih mempunyai mereka, jangan mengecewakan mereka ya sobat” nasihatku pelan kepada Abdul,karena selama ini Abdul yang aku kenal jarang sekali mengucap kata syukur.

***

Sore ini aku akan membantu Ibu mengajarkan adik – adik berhitung, menulis, dan membaca. Aku yang sudah lama tinggal di panti ini merasa sangat pilu melihat anak seusia mereka yang seharusnya sekarang berada di pelukan Ibu kandungnya, malah terlantar dan hidup dengan kasih sayang yang tercukupi.

Kriiiiing… kriiinggg.. kriinggg..

“ Ibuuuuuuu ada telpon” sahut ku dari dalam ruangan belajar

“ halo, assalamualaikum” salam ibu menyambut telpon

Aku dan adik – adik terdiam dan menyimak pembicaraan dari telpon, ternyata 2bulan lagi akan ada orangtua dari keluarga terpandang yang akan mengadopsi anak di panti kami.

22:45 WIB.

Ketika semua orang sudah tertidur  nyenyak, mata ini tak mau di pejamkan, padahal esok masih ada lagi hari yang harus di perjuangkan. Akupun pergi kehalaman belakang panti asuhan ku menikmati hembusan angin malam,  menelentangkan tubuh di atas trampoline dan memandangi indahnya rembulan.

“ tak bisa tidur lagi?” ibu mendekat dan duduk di samping ku

“ eh Ibu, iya bu aku tidak bisa tidur lagi, aku merindukan Ibu kandung ku bu” jawabku sendu

“ Ibu akan selalu ada untukmu  nak, walaupun kamu tidak dilahirkan dari Rahim Ibu, namun Ibu sudah menganggapmu sebagai anak Ibu sendiri ” penjelasan Ibu sendu.

“ terimakasih Ibu, you are my everything  Ibu jangan menangis lagi “ sambil mencium dan  mengelapkan air mata Ibu.

“kau akan menemukan orangtua kandungmu suatu saat nanti, Ibu percaya hala itu “

Jawaban ibu yang sangat menjanjikan itu akan selalu aku ingat.

***

 

2 bulan kemudian, 13:00 WIB.

Tiba-tiba terdeengar suara ketukan pintu dari luar. Akupun berlari kecil beranjak dari atas kursi ruang tv panti.

“ Assalamualaikum nak, bisa bicara dengan pengasuh atau pemilik dari panti ini?”

“ tunggu sebentar ya bu, beliau sedang sholat”

Sepasang suami istri dengan tampilan dan mobil yang mewah, Bapak dengan baju berdasi nya, dan Ibu dengan baju long dress nya , datang  mengunjungi panti kami, seluruh anak – anak sedang istirahat siang. Setelah Ibu selesai dari sholat fardu nya , mata Ibu melirik kehadapanku mengisyaratkan untuk membuat 2gelas air minum untuk tamu yang terhormat ini.

“ permisi Bu.. Pak.. ada yang bisa kami bantu” tanya Ibu

“ sesuai dengan janji kami 2bulan yang lalu, kami akan menjempun calon anak angkat yang akan menjadi anak kami nantinya”

“ oh, Bapak yang berbicara di telpon itu ya, di sini kami mempunyai anak mulai dari usia 2bulan sampai 17th

“ jadi begini bu, anak perempuan saya sangat ingin mempunyai seorang kakak laki-laki, kami ingin mencari yang seperti anak yang tadi membukakan pintu untuk kami”

Akupun membawakan air minum untuk mereka, apa yang aku dengar tadi di dapur ternyata tidak salah, sebentar lagi aku akan memiliki sebuah keluarga baru. Mata ku melirik kehadapan Ibu, kelihatannya Ibu berat untuk melepaskanku, namun Ibu angkatku, menginginkan aku untuk di adopsi, dengan terpaksa aku meninggalkan panti ini, dan Ibu meneteskan airmata tidak ihlasnya atas kepergianku dari panti ini.

“ ahmad, akan sering bermain kesini kok bu, ahmad juga masih ingin mengajarkan adik – adik membaca dan menulis” menutup pintu kamar panti sambil membawa tas besar berisi baju – baju.

Air mata ibu selalu mengalir, ku peluk erat tubuhnya dan meminta izin pergi, akupun mulai melangkahkan kaki menuju ke mobil mewah itu. Seumur hidupku baru 2x aku memakai mobil semewah ini, pertama kali ketika mengikuti olimpiade antar sekolah, dan kedua kalinya aku mendapatkan keluarga baru dari keluarga Bapak Cahyono Andika dan Ibu Anis Andika.

Sepanjang perjalanan mereka menceritakan tentang anak perempuannya, ternyata dahulu ia mempunyai kakak kandung, namun namanya cepat sekali di panggil oleh yang maha kuasa, beliau juga menceritakan tentang fasilitas rumah dan sepenggal sil-silah keluarga mereka, beliau memiliki pembantu yang umurnya tidak muda lagi, namun  sudah mereka anggap sebagai orangtua mereka sendiri, karena pembantunya sudah lama berkerja di rumah mereka. Sesampainya dirumah, aku tercengang melihat rumah semewah ini, Ibu dan Bpak Andika menyuruhku untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa, lidahku kaku menyebutnya,namun akan aku biasakan lidah ini untuk menyebutnya.

***

5th kemudian……

Pagi ini bibi sudah membuatkan kami sarapan, seperti biasa dirumah ini mama dan bibilah yang selalu terbangun lebih dulu.

“ ma, Papa dan anak – anak pergi dulu ya, Assalamualaikum “

Kami segera pamit , biasanya ketika kami pergi melanjutkan aktivitas harian kami di luar, seisi rumah menyaksikan kami pamit. Dan kini aku sudah menjadi mahasiswa di salah satu Universitas yang ada di Jambi, Mama Papa menyuruh ku masuk  jurusan hukum, mereka sangat menginginkan aku menjadi sosok yang berwibawa dan memiliki keadilan terhadap segala ciptaannya. Aku sangat bahagia mempunyai kedua orangtua angkat seperti mereka, bahkan aku pernah menceritakan tentang ceritaku selama di panti, bagaimana aku bisa di asuh selama itu di panti, mereka mengetahui bahwa aku sangat ingin bertemu dengan ibu kandungku, tak pernah aku bosan untuk menanyakan kepada semua orang dimana Ibu kandung ku?

***

langkahku akhirnya menapak di depan halaman panti asuhan ku, sudah bertahun aku tidak kemari.  Aku melihat ibu sedang bernyanyi bersama adik – adik di ruang tv, dengan penuh haru perlahan aku mengetuk pintu , kehadiranku disambut dengan penuh keceriaan, Ibu memelukku dengan erat, aku dan Ibu duduk di ruang tamu.

“ Ibu tau tidak, di sana ada seorang pembantu  bu, beliau sama seperti Ibu sifatnya , penyayang “

” ohya, syukurlah nak, ibu bahagia sekali mendengar kebahagiaanmu disana “ meneteskan air mata.

***

Rumah mama dan papa sama seperti panti asuhanku memiliki halaman belakang yang di tengahnya ada trampoline , insomniaku sepertinya kambuh lagi, aku tidak bisa tidur lagi, kembali menelentangkan badan di atas trampoline tiba – tiba bibi menemaniku duduk di atas trampoline. Suasana sendu itu tercipta mala mini.

“ bi, ahmad merindukan ibu kandung ahmad bi”

“memangnya dimana ibu kandungmu nak?”

“ tidak tahu bi, kata Ibu asuhku beliau meninggalkanku di depan pintu asuhan, dengan sepucuk surat dan segulung uang limapuruh ribuan”

Tiba – tiba bibik terdiam, seperti teringat pada sesuatu yang sangat penting. Perlahan ibu mulai bercerita denganku apa yang beliau rasakan.

“perlu ananda tahu, bibi ini merupakan ibu yang sangat hina” perlahan meneteskan air mata.

“ kenapa begitu bi? Bibi berbuat salah apa?” tanyaku penasaran

“ dahulu, bibi pernah membuang seorang anak di depan pintu asuhan, sama seperti kejadian mu, bibi sangat menyesal ” jelas bibi sambil tersedu menangis

“ Apaaa????? Astagfirullahaladziim, benarkah itu bi? Tapi ahmad yakin jika anak itu sama – sama merindukan ibu kandungnya, ketika bertemu ia tak akan menyimpan rasa benci, sama seperti ahmad sekarang yang sangat merindu ” ujurku sendu

“ merindukan apa nak? Ibu kandungmu yah? bibi yakin kalian akan bertemu suatu saat nanti ”

“ iya bi, Ahmad selalu bertanya kepada diri Ahmad sendiri (dimana ibu kandungku?)”

”bibi sangat berharap mempunyai anak sepertimu nak”

“ Ahmad juga bi, sikap bibi terhadap ahmad menyadarkan Ahmad bahwa bibilah orang yang selama ini Ahmad cari”

Suasana dimalam ini menjadi sendu, ketika bibik menceritakan pengalamannya yang sangat buruk itu, namun aku tak bertanya banyak, kelihatannya bibik sudah kelelahan dan membutuhkan banyak istirahat, aku dan bibik masuk  ke rumah dan beristirahat di kamar masing – masing.

***

Aku sudah duduk di bangku kuliah selama 3th.  Papa dan Mama di rumah sangat menanti kapan waktunya aku memegang toga dan menjadi laki – laki berjas sama seperti papa, mungkin aku akan melanjutkan bisnis papa, karena melihat papa akhir – akhir ini sering mengalami sakit – sakitan , walaupun tidak parah sekiranya untuk jaga – jaga agar tidak terjadi kerugian yang besar.

Pagi ini aku akan menyerahkan hasil skripsi ku kepada dosen di universitas, mendengar teman – teman yang akan melaksanakan wisuda di pertengahan bulan nanti, akupun segera menyelesaikan skripsi ku, aku ingin segera membuktikan kepada kedua orangtuaku bahwa aku bisa sukses walaupun tanpa kehadiran mereka, aku sangat berharap mereka yang jauh disana dapat tersenyum bangga apabila bertemu denganku.

 “ Bik Ahmad mau nanti ketika Ahmad wisuda bibik hadir yaaah, bibi harus ikut mendampingi Ahmad “ ajakku memohon kepada bibi.

“ tapi Bibi tidak mempunyai uang untuk hadir ikut mendampingku nak “

“ tenang Bi, itu bisa Ahmad koordinir nantinya, Ahmad mau semua orang yang ada dirumah ini melihat Ahmad memegang toga itu. “

Aku sangat senang ketika aku akan memegang toga itu di pertengahan bulan di tahun ini, Mama dan Papa sangat mengharapkan IP ku di atas rata – rata , agar aku bisa mengembalikan perjuangan mereka sekian lamanya menanggung beban hidupku.  Aku memohon kepada papa dan Mama untuk mengajak seisi rumah ini datang ketika aku wisuda nanti.

***

Lelah pulang dari kuliah aku meminta bibik untuak memasak air hangat untuk aku mandi, pada waktu itu aku tidak menggunakan pakaiaan, hanya memakai handuk. Tiba – tiba bibi menjatuhkan wadah kosong tempat air panas dengan tidak sengaja , entah karena aku yang tidak memakai baju , ataupun karena hal yang lainnya.

“ Astagfirullahhaladziim” ucap Bibi sambil melepaskan wadah air hangat  yang ada di tangannya.

“ ada apa Bi? Ma’af bi Ahmad, sudah membuat Bibi terkejut? Berlari membantu bibi berdiri

“ tidak nak tidak, kamu tidak salah. Ya Allah terimakasih “ Bibi menangis dan bersujud di hadapanku.

“ Bibik kenapa? Ada apa? Jangan seperti ini bii, berdiriilah ayoo Ahmad bantu “

“ Ma’afkan Bibi nak, ma’afkan Bibi, Bibilah orang tua kandungmu, tanda lahir  ituuuu” terduduk dan sambil memegang bahu ku

“ apa yang Bibik katakana? Ahmad tidak mengerti, tanda lahir ini kenapa Bik?” tanyaku heran

“ tanda yang ada di bahu kamu itu, itu adalah tanda lahir  anak yang ibu lahirkan dan ibu letakkan di depan pintu pantiasuhan”

“ bibi berbohong” aku perlahan mundur ke belakang dan terduduk di kursi, aku menangis dan aku sulit untuk mempercayai kata – kata yang Bibi sebutkan tadi.

“ kamu anak Bibi nak, kemarilah peluk Bibi kandungmu ini nak “

Bibi menangis memohon agar aku memeluk dirinya, pearldahan aku meyakini perkataannya tadi, akhirnya kupeluk erat dan ku cium dahi bibi.

“ boleh Ahmad panggil wanita yang mulia ini dengan sebutan IBU” sambil menghapuskan air mata Bibi dan  tersenyum  haru.

“ boleh sayang, sangat boleh.. sudah lama ibu mengidam – idamkan ada seorang anak yang memanggil diri yang hina ini dengan sebutan IBU”

Suasana yang menegangkan berubahan menjadi suasana yang mengharukan, aku menemukan Ibu kandungku, walaupun rasa hati agak sedikit dongkol dengan sikapnya yang sangat keterlaluan, namun aku dapat ikhlas memaafkan karena aku yakin sejahat – jahatnya seorang Ibu, syurga akn selalu ada di bawah telapak kakinya, karena beliau kita dapat melihat dunia Allah yang indah ini.

Kata – kata yang selama ini sering ku katakana terjawab sudah “dimana Ibu kandungku”

***

Tak terasa waktu yang sangat aku idam – idamkan itu hadir di antara orang – orang yang aku sayangi . dimana akhir dari segala jerih payah ku selama bertahun – tahun berada disini perguruan tinggi, memperjuangkan seuntai tali yang akan di putar dari kiri ke kanan. Mama dan Papa mengetahui bahwa bibik adalah ibu kandungku, mereka turut bahagia ketika aku sudah menemukan ibu kandungku, bagaimana tidak mereka sudah merawatku hingga aku mendapaat gelar sarjana hukum seperti saat ini sangat susah jika mereka merelakan aku tinggal bersama ibu kandungku di rumahnya yang serba berkecukupan , maka dari itu Mama Dan Papa membiarkan aku tinggal dirumahnya selamanya, dan kami menjadi keluarga besar yang bahagia.

            Pagi ini aku dan keluarga  pergi ke salon untuk berhias demi menghadiri wisuda ku nantinya. Mama Dan Papa, Ibu asuh ku di panti dan Ibu kandungku sendiri pun menghadiri undangan ini.

Aku duduk di bangku urutan pertama, dengan IP yang sangat memuaskan, aku menjadi mahasiswa terbaik di universitas ini. Selesai dari acara aku memeluk semua orang yang sudah aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri. Kupeluk mereka hingga mereka menangis haru melihatku yang tampak gagah mengenakan toga ni.