Rabu, 09 April 2014

MENGENAL NAMANYA


  
Sore ini suasana di masjid sungguh indah, matahari yang mulai bersembunyi di balik awan, memancarkan warna merah jingga , semua ciptaan-Nya terbang dengan indah di atas langit, untuk kembali ke habitatnya, menandakan hari semakin petang. Aku dan teman-temanku lepas magrib ini akan menghadiri undangan rapat guna merencanakan kegiatan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Aku pergi melangkah dengan pakaian yang sopan, kain yang menutupi kepala hingga dibawah dada, dan rok yang menutupi hingga ujung jari kakiku. Dan kulihat jam tangan ku menunjukkan pukul 19:00, suara canda teman-temanku sudah semakin dekat dengan pintu rumahku, dan alunan murotal surah Al-baqaroh melantun indah hingga terdengar oleh  seluruh rumah di perumahan ini.
“assalamualaikum ukh, ayo kita pergi “ sahutan salam oleh teman ku terdengar hingga gendang teliga ini berdenging mendengarnya
“ waalaikumsalam ukh, ayo kita pergi “
Sesampainya di masjid, hiruk pikuk keramaian dari anak-anak  remaja terdengar. Terlihat tabir panjang yang membatasi antara wanita dan laki-laki, dan terdengar pula suara yang bergema, lantang, dan tegas di balik tabir itu, rapat akan segera di buka. Aku dan teman-teman ku terhening, mendengarkan mukadimah  seorang ikhwan dibalik tabir itu. Semuanya mendengarkan beliau berbicara di depan, namun untuk lebih menjaga kemuliaan itu, tabir tidak boleh di buka, sehingga jemari ku yang gemulai ini menggenggam pena dan mulai menari-nari di atas lembaran suci. Setiap aku dan teman-teman ku mengikuti rapat ini , kami selalu membawa catatan kecil, agar agenda yang telah di sampaikan tidak berceceran di tengah jalan nantinya. Perayaan Maulid Nabi ini akan di adakan 1 minggu lagi.
“ apakah anti mendengarnya ? ana dan anti mendapatkan tugas yang sama, Seksi Dekorasi “ semangat teman ku Rinita membuat aku lebih semangat untuk mengagendakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini.
Rapat pun selesai, adzan isya pun berkumandang merdu , aku dan teman-teman ku pergi mengantri di tempat wudhu putri bertempat samping kanan masjid, semuanya  terlihat mengantri dengan penuh sabar, pembatas itu berada di mana-mana, karena kami selalu menjaga kemuliaan hati dan akhlak itu. Tak sengaja ketika selesai mengambil air wudhu, mataku berpaling ke hadapan pintu masuk , tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang terpancar sinar di wajahnya, dia sangat tampan.
“ astagfirullahhaladziim, ampun kan aku ya allah, tak bermaksud untuk menzinai hati ini “ lirih batinku
***
Siang ini aku berjalan dengan sahabatku Rinita Istiqomah untuk membeli perlengkapan malam Maulid Nabi nantinya. Aku dan sahabatku berpisah , agar secepatnya dapat mengumpulkan bahan yang di perlukan. Hingga akhirnya ada seorang  laki – laki yang menyapaku.
“ assalamualaikum ukh, ana mau nanya
 akh, kamu jadi membeli buku agenda untuk sekolah mu “
Itulah kalimat lantang yang aku dan Rinita dengar di balik rak kertas minyak itu.
“ anti mendengar suara itu? “ tanyaku kepada Rinita
“ iya ukh, ana mendengarnya, seperti tidak familiar lagi telinga ini mendengarnya “
“ ternyata bukan aku saja yang merasakan suara itu tidak familiar lagi namun sahabat ku juga merasakan nya “ batinku menderu, sejenak aku membayangkan  wajah lelaki itu dan tiba-tiba teringat bahwa allah bisa melihat segalanya.
“ astaghfirullahaladziim”
“ ada apa ukh? “ tanya Rinita dengan dahi nya yang mengkerut , heran melihatku tiba-tiba mengucap istigfar di hadapan nya.
“ owalah, tidak ada apa-apa, ana lupa kalo kita harus mengejar waktu karena masih banyak yang harus kita lakukan di rumah nantinya
Sesampai di rumah aku merebahkan badan ini di atas kasur, bahkan pakaian yang aku kenakan blum sempat aku lepas, suara lantang dan merdu itu selalu terngiang di telinga ini, seperti  ada banyak nyamuk di sekeliling telingaku  bernyanyi dengan riang dan merdu. Pmikiran dan hati ini semakin kotor, akhirnya kulepas pakaian ku, dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Memohon ampun kepada yang maha agung atas segala yang aku lakukan siang hari ini.
Adzan ashar itu akhirnya berkumandang, selepas sholat ashar aku segera  mengambil al-quran di atas meja belajar ku, untuk membacanya ayat demi  ayat. Semakin lama semakin tenang dan aku berharap kejadian siang tadi  tidak terulang di kemudian harinya.
“ mayliza….. ayo makan malam dulu nak, ibu dan ayah akan pergi nantinya ke cukuran adik sepupumu di kota baru “ suara ibu yang selalu menjadi penyejuk dan pelengkap hidup itu akhirnya memanggilku untuk makan malam.
“ iya bu, tunggu sebentar “ akupun segera keluar dari kamar tidurku yang sedang asik mengerjakan Pr.
Malam pun terasa hening, hanya ada krikikkan dari suara jangkrik dan kodok di sekeliling rumah ku. Dengan perut yang masih kekenyangan, aku mengambil ponsel ku dan duduk manis di depan tv, sambil menelpon sahabatku Rinita Istiqomah.
“ halo, assalamualaiku”
“ waalaikumsalam”
“ ukh, kita besok masih mencari perlengkapan dekorasi kah? “tanyaku lirih, pelan namun seperti memohon, karena aku tak berani pergi sendirian ke toko buku.
“ astagfirullahaladziim, afwan jiddan ukhti, anti siang nanti harus pergi menemani ibu, beliau minta di temani kerumah paman” jawab sahabatku
“ oh, iya tidak apa-apa ukh, nanti ana usahakan pergi sendiri sajalah haha “ berusaha untuk ikhlas karena nanti akan berjalan di tengah keramaian sendirian.
“ iya, ukh afwan jiddan”
“ oke, salam untuk paman dan ibu di rumah ya, assalamualaikum “
“ waalaikumsalam”
Setelah memutuskan telpon, aku kembali beranjak ke kamar ku, untuk melanjutkan Pr ku. Tak lama kemudia ada pesan singkat yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tak aku kenali.
“assalamualaikum ukhti, siang kemarin ana tak sengaja melihat uang anti jatuh Rp.100.000.00 dan sekarang uang itu masih ada dengan ana, besok akan ana kembalikan di meja kelas anti “
Yaaa. Itulah isi pesan singkat dari nomor yang tak aku kenal, namun tak ku pikirkan siapa yang sms, bahkan pulsa ku tidak mencukupi lagi untuk membalasnya. Tak jadi bermesraan dengan Pr pikiranku melayang memikirkan uang  yang jatuh itu, tak pernah aku memegang uang sebanyak itu untuk pergi kesekolah, sejenak aku mengingat , “ astagfirullahaladziim,kemarin aku membawa uang iuran masjid, untuk membeli perlengkapan dekorasi” batinku. Aku mulai mengoreksi diri, mengapa sifat ceroboh ini tak kunjung usai menjadi sebuah kebiasaan ku. Ternyata memang benar, uang iuran untuk membeli perlengkapan Maulid Nabi SAW, aku pun menenangkan pikiran ini, dan mengambil air wudhu untuk sholat isya.
06:45
Seperti biasa aku pergi sekolah di antar oleh Ibu, sesampai di depan gerbang, semua guru-guru yang piket pada hari itu , berdiri menyambut siswa nya. Biasanya siswa yang datang pagi lah yang mendapatkan senyuman manis dan jabatan tangan dari guru-guru di sini.
Tak seperti biasa, hari ini kelas ku sudah terbuka, biasanya setiap aku datang ke sekolah, pastilah ruang kelas ini belum di buka. Pagi ini berbeda dari sebelum nya, ada salah seorang teman ku yang datang lebih dulu dari ku dan  ternyata benar seseorang yang mengirimkan pesan ke ponsel ku semalam benar meletakkan uang yang terjatuh di atas meja . Aku semakin penasaran siapa yang berhati mulia itu.
“ anti melihat siapa yang menaruh amplop di atas meja ini? “ tanyaku kepada teman yang datang lebih dulu dari ku
“ tidak, ana saja tidak mengetahui bahwa ada amplop di atas meja anti”
Tidak ada yang mengetahui siapa yang menaruh, hanya untuk mengucapkan sepatah kata terimakasih saja untuk nya, namun tidak ada yang mengetahui nya.
mungkin saja ibu retno mengetahui siapa yang menaruh amplop putih ini “ batin ku,
“ mey, anti mau kemana? “ tanya rinita
“ ana mau mencari tahu siapa yang berbaik hati mengembalikan uang ana ukh “ jelas ku tergesah-gesah dan langsung berlari kecil keluar kelas, dan segera kerumah ibu retno.
“ assalamualaikum “ sambil mengetok pintu
“ wa’alaikumsalam, ada apa nak “
“ begini bu, apakah ibu melihat siapa yang meletakkan amplop putih di atas meja saya”
“ oh amplop itu, tadi pagi ada seorang anak laki-laki yang meminta kunci kelas kepada ibu nak, dan ibu lupa menanyakan dia kelas berapa dan namanya” penjelasan singkat dari ibu retno
Sedikit informasi dari ibu retno membuat aku dan rinita semakin penasaran siapa yang menaruh amplop putih itu.
***
Sepulang sekolah, aku berencana untuk kembali mencari perlengkapan dekorasi, kali ini aku tidak berdua dengan sahabat ku, aku berjalan sendiri. Akupun berjalan merunduk, agar tidak memancing nafsu adam ketika melihatku berjalan sendiri.
Sesampainya di toko buku, mataku berpaling ke salah satu Al-quran yang ada di rak paling atas, al-quran kecil berwarna biru langit , akupun mengambil al-quran itu dan duduk manis di kursi yang telah di sediakan di toko buku tersebut, dan membacanya.
“ assalamualaikum ukhti” seperti suara yang tidak familiar lagi, akupun melihat siapa yang memanggilku.
“ waalaikumsalam akhi” sahut salam ku, ketika aku mengetahui yang memanggilku seorang laki-laki, aku tak berani lagi melihat matanya
“ uang yang aku letakkan di atas meja anti, sudah di terima kan? “ tanya lelaki itu lirih
Ketika dia menanyakan hal itu , wajahku terangkat dan mengucapkan terimakasih kepadanya, sampai akhirnya ia sendiri kebingungan dengan tingkahku.
“ terimakasih akh”
Sepata demi patah kami pun melanjutkan obrolah itu, ternyata dialah seorang lelaki yang suaranya tidak familiar lagi di telingaku, ternyata dia yang berbicara dibalik tabir, ternyata dia yang berbicara di balik rak buku, ternyata dia yang menemui uang ku yang jatuh, ternyata dia yang selama ini ku cari. Aku merenungi wajahnya, ku pandang hidungnya yang bangir, ku resapi suaranya yang lantang hingga aku terhayun terbawa hembusan angin.
“ astagfirullahhaladziim, ya allah apa yang aku lakukan, aku mengingat hal yang tak sewajarnya aku ingat, ma’afkan aku ya Allah” batinku tersentak
Sembari melihat al-quran aku secepatnya meninggalkan tempat itu  karena aku tak mau berlama-lama terperangkap oleh perzinaan hati dan pikiran.
***
Malam yang di tunggu – tunggu akhirnya datang, Maulid Nabi akan segera dimulai, semua tamu undangan duduk damai di dalam masjid, menikmati rangkaian acara demi acara, mala mini yang jadi pembawa acaranya adalah laki – laki yang aku temui di toko buku kemarin, sampai detik ini aku tidak mengetahui siapa namanya, sepertinya dia anak baru di komplek ini.
“ Mey, suara laki – laki itu sama seperti suara laki – laki yang di toko buku kemarin, benar tidak?“ tanya Rinita
“ iya ukh, anti benar dan dia juga yang sudah mengembalikan uang ana di atas meja kelas”
“ sungguh? Subhanallah, mulianya hati lelaki itu, siapa namanya ukh? “ tanya Rinita sambil menghadapkan wajah dengan dahi mengkerut ke hadapanku
“ naahhh, itu dia, ana lupa menanyakannya, yasudahlah tidak baik bergunjing di masjid hehe” tegasku mengalihkan pembicaraan.
Rangkaian demi rangkaian pun berjalan, akhirnya acara Maulid Nabipun berjalan dengan lancer, di pintu keluar masjid aku melihat laki – laki itu sedag menyapu sisa – sisa snack  dari para tamu undangan.
“ assalamualaikum ukhti “
“ waalaikumsalam, ada apa akh?” jawabku malu – malu
ternyata dengan tak di duga,laki – laki itu menanyakan namaku. Nama laki – laki yang berjenggot tipis itu Yubi Sholahudin , nama yang sangat cocok dengan akhlak nya yang dermawan, dan suaranya yang lantang, semua rasa penasaran itu terjawab sudah. Bermula dari persiapan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW , dan berakhir di pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.rasa penasaran itu berlabuh pada
^The End^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar