Senin, 30 Desember 2013

MALAIKAT TANPA SAYAP ITU LAGI






Pagi itu di dalam kamar yang sejuk namun tidak damai
Anaaa..
Anaa..
Naakk, coba bantu ibu , kemarilah
“Iya buuuu” sahut qu dari dalam kamar , bergegas menuju ke dapur.
“Ada apa bu .. “  akupun berdiri melihat ibu sedang mengiris serong terong yang akan mau di masak
“ kau kenapa nak? Ada apa dengan mata mu? Kau menangis? “ ibu pun berkata dengan penuh tanya.
Senyuman itu tak lepas aku lontarkan, dengan mencoba mengambil pisau dan segera membantu mengiris terong yang akan di masak, ibu selalu bertanya namun aku tak mau menjawab, karena tak berguna saja aku mengatakan nya, ini hanya hal konyol yang hanya membuat semua orang bertanya tanya.
Kekonyolan yang aku lakukan semalam hanyalah perbuatan yang merugikan diriku sendiri, aku menangisi sosok bayangan yang tak akan mungkin aku lihat lagi senyumnya, walau hanya sekilas :’(
Yaaa.. dialah  sahabat ku ADINDA SEPTIANI PUTRI sosok wanita yang kemayu, lemah lembur, serta penyayang terhadap siapapun, walaupun hanya lewat jejaring social aku mengenal nya, namun ia telah banyak mengisi buku harian ku, begitu pula dengan buku kehidupan ku.
Canda
Gurau
Tangis
duka
Tawa
Serta keriangan
Dia telah mengukir segalanya di dalam buku harian dan kehidupan ku, entah konyol atau tidak , namun aku sampai kini masih membayangkan kebersamaan ku bersama nya, selalu ingin didekatnya, andai saja kalian, jika kalian mempunyai seorang sahabat, namun kalian tidak mengetahui dimana ia di semayamkan, pasti sangat sakit rasanya..
siang itu ibu menyuruh ku tidur siang bersama nya, tidur siang di samping nya , dan aku pun tidur di sampingnya. Ibu kembali bertanya
“ wahai adinda, kenapa kau hariini, ada masalah dengan sekolah mu? Atau ada masalah dengan teman teman mu “ ibu bertanya dengan penuh penasaran.
Namun aku yang belum siap untuk bercerita semuanya hanya bisa memeluk erat tubuhnya, menangis sejadi jadinya . perlahan titik jenuh itupun menyambar dan aku pun perlahan segera bercerita dengan malaikat tanpa sayapku itu
“ ibu, aku ingin bercerita, namun sebelumnya ma’afkan aku sudah membuatmu bertanya dan kembali bertanya hingga khawatir dengan keadaan ku “
“ iya sayang, ceritlah, ibu mu ini wanita, juga pernah merasakan hal yang sama seperti mu, setidaknya ibu bisa mengerti apa yangkamu rasakan, disbanding orang-orang yang baru kau kenal dan baru kau beri kepercayaan “ ibu pun mulai perlahan menasehati ku namun hati ku belum luluh juga untuk mengeluarkan satu kata pun
Aku wanita yang tidak suka banyak omong, lebih suka menyimpan masalah ini sendiri, selagi masalah itu belum terlalu membebani pikiran ini, dan membuat ku jatuh sakit..
Ibu tidak mengetahui bahwa aku mempunyai sosok sahabat yang sebaik, sholehah, penyayang seperti  ADINDA , ibu hanya tau kalau anaknya ini hanyalah sosok anak perempuan yang polos, tidak pernah dekat dengan sosok lelaki, namun mempunyai sejuta senyuman di balik semua masalah, dikenal sebagai sosok wanita periang J
Maka dari itu ibu sangat mengkhawatirkan ku jika melihat aku bersedih, apalagi meneteskan air mata di depan nya, akupun bercerita
“ ana, mempunyai seorang sahabat bu”
Lantas mengapa kau menangis”  ibu pun memotong pembicaraan
“ stooooop ibu, jangan di potong, dengarkan cerita ku dahulu , ma’af ibuuu aku membantah mu “
“ tak apa adinda, silahkan, ayoo berceritalah ssyang “
“ nama sahabat ku itu adinda bu, ia seorang wanita yang cantik, periang , pengertian, penyayang, hatinya itu sempurna sekali “ namun ia sekarang sudah tidak ada lagi di dunia ini bu , dia sudah meninggal, dan ibu tau, sangat sakit hati ini karena tidak mengetahui dimana wanita periang itu di semayamkan :’( ana sediiih karena itu bu , tolong qina”
“ istigfar nak, jangan begitu, segalanya itu milik allah, hanya allah lah yang mengetahui kapan ajal kita dating, kita hidup di dunia ini hanya sementara, kita hanya di titipkan oleh allah untuk mencari amal guna bekal kita nanti menempati tempat yang telah ia persiapkan di akhirat nanti, berusahalah untuk ikhlas, jangan membebani pikiran mu dengan bayangan dia, sesungguhnya jika adinda tidak mengikhlaskan, maka ia di sana juga tidak akan tenang, biarkan ia pergi dan beristirahat selamanya disana”
“ tapi bu, ana sudah berusaha ikhlas namun air mata ini selalui mengalir, dan teringat nama dia selalu bu, ana takut ana tidak bisa melupakan masa masa dimana kami selalu bersama bu “
Aku dan ibu pun saling berpelukan, dengan penuh hangat hati ini pun mulai meredam dari kegelisahan..
Lagi lagi wanita tanpa sayap itu lagi yang berusaha mendamaikan hati dan pikiran ini, sungguh kata kata mu bagaikan laksana embun di bumi yang gersang, kau dating untuk menyejukkan hati ini, hingga terhenti derai air mata yang membasahi pipi, yaaa.. kau adalah malaikat tanpa sayap ku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar