IBU KAU DIMANA ?
IBU KAU DI MANA ?
Ahmad Azzam itulah namaku
yang diberikan oleh Ibu asuh di panti ini , sejak kecil aku tidak tahu dimana
keberadaan Ibu kandung ku, sepenggal cerita yang kudengar dari Ibu asuhku di
panti ini, aku di temukan di depan pintu panti asuhan, dengan sepucuk surat di
atas tubuhku, bertinta merah dan segulung uang limapuluh ribuan yang isinya “ tolong rawat anak ini dengan penuh kasih “ aku yang mendengarkan cerita itu menangis,
apakah Ibuku telah mati dibunuh atau kah masih hidup. Kini usiaku masih 17th
aku duduk di salah satu bangku Sekolah
Menengah Atas Kota Jambi. Di bagian bahu
tubuhku ada tanda kelahiran, yaitu bercak coklat yang berbentuk huruf R.
“Anak
– anak ayo bangun.. !! ” suara yang merdu itu kembali aku dengar, Ibu yang
setiap pagi membangunkanku , dan membuatkanku sarapan sebelum berangkat ke
sekolah, senang sekali dan kami sangat bangga dengan Ibu asuh di panti ini.
“ Ayo bangun anak –anak
kita sholat subuh berjamaah, Mad kamu yang jadi imam nya yah”
Biasanya setiap sholat
fardu, yang menjadi imam dipanti ini aku sendiri, Ibu dari kecil sudah
mengajarkanku tentang agama.
Awan mulai menarik sinar
mentari yang indah pagi ini , mentari itu selalu tersenyum, menyapa semua umat
yang ada di bumi Allah ini, ku pandangi jam tanganku ternyata waktu masuk
sekolah tinggal 5menit lagi , untungnya rumahku dekat dengan sekolah.
“ Hari ini kita akan mempelajari tentang Hubungan Internasional”
tegas guruku didepan
kelas.
Aku sangat menyukai
pelajaran PKN karena cita – citaku adalah menjadi sosok pemimpin. Di pelajaran
inilah aku banyak mempelajari tentang motto dunia seperti pengorbanan para
pahlawan yang telah mendahului kita. aku bercita – cita menjadi sepereti mereka, bermanfaat bagi
orang banyak , dan di kenang secara terhormat.
Sembari Ibu guru
melanjutkan pelajaran, tak lama kemudian bel istirahat pertama berbunyi, aku
dan teman sebangku ku segera pergi ke musholah sekolah, biasanya kami ketika
istirahat pertama , melakukan sholat dhuha bersama. Selama berjalan Abdul Aziz
temanku, bertanya tentang perguruan tinggi.
“ Mad tak terasa sebentar
lagi kita akan duduk di bangku perguruan tinggi , kita – kira kamu mau
menyambung dimana Mad?” tanya Abdul sambil bercanda gurau di tempat wudhu laki
– laki .
“ hmm, aku belum tahu Dul, lulus dari Sekolah Menengah Atas saja aku
sudah sangat bersyukur dengan yang kuasa,kalo kamu?” tanyaku lirih dan agak
sedikit minder.
“ aku insyaallah akan melanjutkan
ke ITB Mad, orangtua ku yang memaksa aku masuk ITB”
“ bersyukurlah Dul, kau
masih mempunyai mereka, jangan mengecewakan mereka ya sobat” nasihatku pelan
kepada Abdul,karena selama ini Abdul yang aku kenal jarang sekali mengucap kata
syukur.
***
Sore ini aku akan
membantu Ibu mengajarkan adik – adik berhitung, menulis, dan membaca. Aku yang sudah
lama tinggal di panti ini merasa sangat pilu melihat anak seusia mereka yang
seharusnya sekarang berada di pelukan Ibu kandungnya, malah terlantar dan hidup
dengan kasih sayang yang tercukupi.
Kriiiiing… kriiinggg.. kriinggg..
“ Ibuuuuuuu ada telpon”
sahut ku dari dalam ruangan belajar
“ halo, assalamualaikum”
salam ibu menyambut telpon
Aku dan adik – adik
terdiam dan menyimak pembicaraan dari telpon, ternyata 2bulan lagi akan ada
orangtua dari keluarga terpandang yang akan mengadopsi anak di panti kami.
22:45 WIB.
Ketika semua orang sudah
tertidur nyenyak, mata ini tak mau di
pejamkan, padahal esok masih ada lagi hari yang harus di perjuangkan. Akupun
pergi kehalaman belakang panti asuhan ku menikmati hembusan angin malam, menelentangkan tubuh di atas trampoline dan memandangi indahnya
rembulan.
“ tak bisa tidur lagi?”
ibu mendekat dan duduk di samping ku
“ eh Ibu, iya bu aku
tidak bisa tidur lagi, aku merindukan Ibu kandung ku bu” jawabku sendu
“ Ibu akan selalu ada
untukmu nak, walaupun kamu tidak
dilahirkan dari Rahim Ibu, namun Ibu sudah menganggapmu sebagai anak Ibu sendiri
” penjelasan Ibu sendu.
“ terimakasih Ibu, you are my everything Ibu jangan menangis lagi “ sambil mencium dan mengelapkan air mata Ibu.
“kau akan menemukan
orangtua kandungmu suatu saat nanti, Ibu percaya hala itu “
Jawaban ibu yang sangat
menjanjikan itu akan selalu aku ingat.
***
2 bulan kemudian, 13:00
WIB.
Tiba-tiba terdeengar
suara ketukan pintu dari luar. Akupun berlari kecil beranjak dari atas kursi
ruang tv panti.
“ Assalamualaikum nak,
bisa bicara dengan pengasuh atau pemilik dari panti ini?”
“ tunggu sebentar ya bu,
beliau sedang sholat”
Sepasang suami istri
dengan tampilan dan mobil yang mewah, Bapak dengan baju berdasi nya, dan Ibu
dengan baju long dress nya ,
datang mengunjungi panti kami, seluruh
anak – anak sedang istirahat siang. Setelah Ibu selesai dari sholat fardu nya ,
mata Ibu melirik kehadapanku mengisyaratkan untuk membuat 2gelas air minum
untuk tamu yang terhormat ini.
“ permisi Bu.. Pak.. ada
yang bisa kami bantu” tanya Ibu
“ sesuai dengan janji
kami 2bulan yang lalu, kami akan menjempun calon anak angkat yang akan menjadi anak
kami nantinya”
“ oh, Bapak yang berbicara
di telpon itu ya, di sini kami mempunyai anak mulai dari usia 2bulan sampai 17th
“
“ jadi begini bu, anak
perempuan saya sangat ingin mempunyai seorang kakak laki-laki, kami ingin
mencari yang seperti anak yang tadi membukakan pintu untuk kami”
Akupun membawakan air minum
untuk mereka, apa yang aku dengar tadi di dapur ternyata tidak salah, sebentar
lagi aku akan memiliki sebuah keluarga baru. Mata ku melirik kehadapan Ibu,
kelihatannya Ibu berat untuk melepaskanku, namun Ibu angkatku, menginginkan aku
untuk di adopsi, dengan terpaksa aku meninggalkan panti ini, dan Ibu meneteskan
airmata tidak ihlasnya atas kepergianku dari panti ini.
“ ahmad, akan sering
bermain kesini kok bu, ahmad juga masih ingin mengajarkan adik – adik membaca
dan menulis” menutup pintu kamar panti sambil membawa tas besar berisi baju –
baju.
Air mata ibu selalu
mengalir, ku peluk erat tubuhnya dan meminta izin pergi, akupun mulai
melangkahkan kaki menuju ke mobil mewah itu. Seumur hidupku baru 2x aku memakai
mobil semewah ini, pertama kali ketika mengikuti olimpiade antar sekolah, dan
kedua kalinya aku mendapatkan keluarga baru dari keluarga Bapak Cahyono Andika
dan Ibu Anis Andika.
Sepanjang perjalanan
mereka menceritakan tentang anak perempuannya, ternyata dahulu ia mempunyai
kakak kandung, namun namanya cepat sekali di panggil oleh yang maha kuasa,
beliau juga menceritakan tentang fasilitas rumah dan sepenggal sil-silah
keluarga mereka, beliau memiliki pembantu yang umurnya tidak muda lagi, namun sudah mereka anggap sebagai orangtua mereka
sendiri, karena pembantunya sudah lama berkerja di rumah mereka. Sesampainya
dirumah, aku tercengang melihat rumah semewah ini, Ibu dan Bpak Andika
menyuruhku untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa, lidahku kaku
menyebutnya,namun akan aku biasakan lidah ini untuk menyebutnya.
***
5th kemudian……
Pagi ini bibi sudah
membuatkan kami sarapan, seperti biasa dirumah ini mama dan bibilah yang selalu
terbangun lebih dulu.
“ ma, Papa dan anak –
anak pergi dulu ya, Assalamualaikum “
Kami segera pamit ,
biasanya ketika kami pergi melanjutkan aktivitas harian kami di luar, seisi
rumah menyaksikan kami pamit. Dan kini aku sudah menjadi mahasiswa di salah satu
Universitas yang ada di Jambi, Mama Papa menyuruh ku masuk jurusan hukum, mereka sangat menginginkan aku
menjadi sosok yang berwibawa dan memiliki keadilan terhadap segala ciptaannya.
Aku sangat bahagia mempunyai kedua orangtua angkat seperti mereka, bahkan aku
pernah menceritakan tentang ceritaku selama di panti, bagaimana aku bisa di
asuh selama itu di panti, mereka mengetahui bahwa aku sangat ingin bertemu
dengan ibu kandungku, tak pernah aku bosan untuk menanyakan kepada semua orang
dimana Ibu kandung ku?
***
langkahku akhirnya
menapak di depan halaman panti asuhan ku, sudah bertahun aku tidak kemari. Aku melihat ibu sedang bernyanyi bersama adik
– adik di ruang tv, dengan penuh haru perlahan aku mengetuk pintu , kehadiranku
disambut dengan penuh keceriaan, Ibu memelukku dengan erat, aku dan Ibu duduk
di ruang tamu.
“ Ibu tau tidak, di sana
ada seorang pembantu bu, beliau sama
seperti Ibu sifatnya , penyayang “
” ohya, syukurlah nak,
ibu bahagia sekali mendengar kebahagiaanmu disana “ meneteskan air mata.
***
Rumah mama dan papa sama
seperti panti asuhanku memiliki halaman belakang yang di tengahnya ada trampoline , insomniaku sepertinya
kambuh lagi, aku tidak bisa tidur lagi, kembali menelentangkan badan di atas
trampoline tiba – tiba bibi menemaniku duduk di atas trampoline. Suasana sendu itu tercipta mala mini.
“ bi, ahmad merindukan
ibu kandung ahmad bi”
“memangnya dimana ibu
kandungmu nak?”
“ tidak tahu bi, kata Ibu
asuhku beliau meninggalkanku di depan pintu asuhan, dengan sepucuk surat dan
segulung uang limapuruh ribuan”
Tiba – tiba bibik
terdiam, seperti teringat pada sesuatu yang sangat penting. Perlahan ibu mulai
bercerita denganku apa yang beliau rasakan.
“perlu ananda tahu, bibi
ini merupakan ibu yang sangat hina” perlahan meneteskan air mata.
“ kenapa begitu bi? Bibi
berbuat salah apa?” tanyaku penasaran
“ dahulu, bibi pernah
membuang seorang anak di depan pintu asuhan, sama seperti kejadian mu, bibi
sangat menyesal ” jelas bibi sambil tersedu menangis
“ Apaaa?????
Astagfirullahaladziim, benarkah itu bi? Tapi ahmad yakin jika anak itu sama –
sama merindukan ibu kandungnya, ketika bertemu ia tak akan menyimpan rasa
benci, sama seperti ahmad sekarang yang sangat merindu ” ujurku sendu
“ merindukan apa nak? Ibu
kandungmu yah? bibi yakin kalian akan bertemu suatu saat nanti ”
“ iya bi, Ahmad selalu
bertanya kepada diri Ahmad sendiri (dimana
ibu kandungku?)”
”bibi sangat berharap
mempunyai anak sepertimu nak”
“ Ahmad juga bi, sikap
bibi terhadap ahmad menyadarkan Ahmad bahwa bibilah orang yang selama ini Ahmad
cari”
Suasana dimalam ini
menjadi sendu, ketika bibik menceritakan pengalamannya yang sangat buruk itu,
namun aku tak bertanya banyak, kelihatannya bibik sudah kelelahan dan
membutuhkan banyak istirahat, aku dan bibik masuk ke rumah dan beristirahat di kamar masing –
masing.
***
Aku sudah duduk di bangku
kuliah selama 3th. Papa dan Mama
di rumah sangat menanti kapan waktunya aku memegang toga dan menjadi laki –
laki berjas sama seperti papa, mungkin aku akan melanjutkan bisnis papa, karena
melihat papa akhir – akhir ini sering mengalami sakit – sakitan , walaupun
tidak parah sekiranya untuk jaga – jaga agar tidak terjadi kerugian yang besar.
Pagi ini aku akan
menyerahkan hasil skripsi ku kepada
dosen di universitas, mendengar teman – teman yang akan melaksanakan wisuda di
pertengahan bulan nanti, akupun segera menyelesaikan skripsi ku, aku ingin
segera membuktikan kepada kedua orangtuaku bahwa aku bisa sukses walaupun tanpa
kehadiran mereka, aku sangat berharap mereka yang jauh disana dapat tersenyum
bangga apabila bertemu denganku.
“ Bik Ahmad mau nanti ketika Ahmad wisuda
bibik hadir yaaah, bibi harus ikut mendampingi Ahmad “ ajakku memohon kepada
bibi.
“ tapi Bibi tidak
mempunyai uang untuk hadir ikut mendampingku nak “
“ tenang Bi, itu bisa
Ahmad koordinir nantinya, Ahmad mau semua orang yang ada dirumah ini melihat
Ahmad memegang toga itu. “
Aku sangat senang ketika
aku akan memegang toga itu di pertengahan bulan di tahun ini, Mama dan Papa
sangat mengharapkan IP ku di atas rata – rata , agar aku bisa mengembalikan perjuangan
mereka sekian lamanya menanggung beban hidupku.
Aku memohon kepada papa dan Mama untuk mengajak seisi rumah ini datang
ketika aku wisuda nanti.
***
Lelah pulang dari kuliah
aku meminta bibik untuak memasak air hangat untuk aku mandi, pada waktu itu aku
tidak menggunakan pakaiaan, hanya memakai handuk. Tiba – tiba bibi menjatuhkan
wadah kosong tempat air panas dengan tidak sengaja , entah karena aku yang
tidak memakai baju , ataupun karena hal yang lainnya.
“ Astagfirullahhaladziim” ucap Bibi
sambil melepaskan wadah air hangat yang
ada di tangannya.
“ ada apa Bi? Ma’af bi Ahmad, sudah
membuat Bibi terkejut? Berlari membantu bibi berdiri
“ tidak nak tidak, kamu tidak salah. Ya
Allah terimakasih “ Bibi menangis dan bersujud di hadapanku.
“ Bibik kenapa? Ada apa? Jangan seperti
ini bii, berdiriilah ayoo Ahmad bantu “
“ Ma’afkan Bibi nak, ma’afkan Bibi,
Bibilah orang tua kandungmu, tanda lahir ituuuu” terduduk dan sambil memegang bahu ku
“ apa yang Bibik katakana? Ahmad tidak
mengerti, tanda lahir ini kenapa Bik?” tanyaku heran
“ tanda yang ada di bahu kamu itu, itu
adalah tanda lahir anak yang ibu
lahirkan dan ibu letakkan di depan pintu pantiasuhan”
“ bibi berbohong” aku perlahan mundur
ke belakang dan terduduk di kursi, aku menangis dan aku sulit untuk mempercayai
kata – kata yang Bibi sebutkan tadi.
“ kamu anak Bibi nak, kemarilah peluk
Bibi kandungmu ini nak “
Bibi menangis memohon agar aku memeluk
dirinya, pearldahan aku meyakini perkataannya tadi, akhirnya kupeluk erat dan
ku cium dahi bibi.
“ boleh Ahmad panggil wanita yang mulia
ini dengan sebutan IBU” sambil menghapuskan air mata Bibi dan tersenyum
haru.
“ boleh sayang, sangat boleh.. sudah
lama ibu mengidam – idamkan ada seorang anak yang memanggil diri yang hina ini
dengan sebutan IBU”
Suasana yang menegangkan
berubahan menjadi suasana yang mengharukan, aku menemukan Ibu kandungku,
walaupun rasa hati agak sedikit dongkol dengan sikapnya yang sangat
keterlaluan, namun aku dapat ikhlas memaafkan karena aku yakin sejahat –
jahatnya seorang Ibu, syurga akn selalu ada di bawah telapak kakinya, karena
beliau kita dapat melihat dunia Allah yang indah ini.
Kata – kata yang selama ini sering ku
katakana terjawab sudah “dimana Ibu
kandungku”
***
Tak terasa waktu yang
sangat aku idam – idamkan itu hadir di antara orang – orang yang aku sayangi .
dimana akhir dari segala jerih payah ku selama bertahun – tahun berada disini
perguruan tinggi, memperjuangkan seuntai tali yang akan di putar dari kiri ke
kanan. Mama dan Papa mengetahui bahwa bibik adalah ibu kandungku, mereka turut
bahagia ketika aku sudah menemukan ibu kandungku, bagaimana tidak mereka sudah
merawatku hingga aku mendapaat gelar sarjana hukum seperti saat ini sangat
susah jika mereka merelakan aku tinggal bersama ibu kandungku di rumahnya yang
serba berkecukupan , maka dari itu Mama Dan Papa membiarkan aku tinggal
dirumahnya selamanya, dan kami menjadi keluarga besar yang bahagia.
Pagi ini aku dan keluarga pergi ke salon untuk berhias demi menghadiri
wisuda ku nantinya. Mama Dan Papa, Ibu asuh ku di panti dan Ibu kandungku
sendiri pun menghadiri undangan ini.
Aku duduk di bangku
urutan pertama, dengan IP yang sangat memuaskan, aku menjadi mahasiswa terbaik
di universitas ini. Selesai dari acara aku memeluk semua orang yang sudah aku
anggap sebagai ibu kandungku sendiri. Kupeluk mereka hingga mereka menangis
haru melihatku yang tampak gagah mengenakan toga ni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar