Selasa, 05 November 2013

KEKURANGAN ITU INDAH part II




***

Tiga hari telah berlalu, dan dimaspun melakukan aktivitas SMP nya dengan hikmat, tidak ada permasalahan yang ia rasakan, hanya satu penghambatnya yaitu, masih belum bias bergaul dengan banyak orang karena kesehariannya yang cenderung sangan lugu.
Dimas duduk dibangku kelas 7A , katanyasih itu kelas unggul, dimana isinya anak-anak yang pintar dan memiliki kapasitas kemampuan otak, yang berbeda di antara anak anak lain, cukup menarik tapi bagaimana dengan dimas, apakah ia mampu menjalani semuaitu. Ya jalani saja sampai ujian semester gasal dimulai J
Sepulang sekolah dimas, di jemput oleh kakak nya raka,ia setiap ppulang sekolah pasti selalu ribut di jalan, hingga pernah dimas di tinggalkan di pinggiran trotoar, karna hal sepele.
Raka dan dimas memang tidak pernah akur, walaupun mereka di rumah tinggal dalam satu kamar, makan bersama, minum,mandi bahkan hidup bersama di dalam satu rumah.
Mungkin memang hokum alamnya tidak di nobatkan untuk akur, tapi ya sudahlah itu hanyalah, keragaman jenis akhlak dan watak seseorang.
Tidak ada yang bias menilai kalau bukan oranglain, kita menyadari sendiri itu jarang ada dan berhasil, apalagi anak zaman sekarang.
***
Tibalah semester gasal, dimana kemampuan anak anak mulai di uji, dimas pun mulai sibuk untuk belajar karena dia tidak mau mengecewakan ibu dan kakak nya.
Ayah dua beradik ini sudah lama meninggal dunia, ayahanda meninggal dunia di karenakan sakit berat, ibu nya pun selalu menyemangatkan kedua anaknya agar mereka tidak merendah dengan teman teman nya,
Pagi itu pun tiba dan saatnya pertempuran itu dimulai, raka dan dimas saling menyemangati satu sama lain, kakak nya mengikuti ujian juga di universitas  nya J 
Ujian hari pertama dimulai dengan mate plajaran MATEMATIKA DAN IPA dimas sangat gugup untuk mengisi soal soal yang ada di lembaran putih melintang , walaupun hanya 3 lembar, kertas itu sangat menguji kemampuan siswa.
Di detik detik terakhir dimas masih belum menyelesaikan sebanyak 5 soal dan dengan terpaksa dimaspun menyontek teman yang ada di belakang tempat ia duduk,
  ssttsss..” dimas membisik
“ hah.. iya ada apa mas? “ ujur temannya membisik
“ nomor 10, 15,17,27,19 apa hehe? “ dimaspun memasang muka cemas tapi sambil memperlihatkan senyumannya yang manis itu
  ADBCA , itu mas jawabannya “ sang teman pun memberikan jawaban itu secara membisik
Teeett..teeet.. bel pun berbunyi, dimas segera mengumpulkan lembar jawaban nya bismillahirrohmanirohim semoga hasilnya memuaskan (hatinya berbisik) dengan tampang yang pucat tangan yang bergetar dan telapak tangannya pun penuh dengan keringat.
***
Hariini mateplajaran yang di uji yaitu bahasa Indonesia dan IPS, untuk hari kedua ini dimas berharap taklah sesulit yang telah berlalu, ia sangat ingin memiliki ketenangan namun semenjak ia duduk di bangku SMP ini , ia cenderung sangat mudah terkena penyakit, entah itu magh,flu, demam atau semacamnya, nah di ujiannya yang kedua ini ia sangat gelisah dengan timbulnya keringat yang sangat berlebihan di telapak tangannya.
Haripun berlalu
Malam itu dimas tidak tidur bersama kakak nya yaitu raka, kakak nya menjalankan KKN untuk memenuhi persyaratan sebelum memegang toga nantinya.
Dimas sejenak merenung, matanya yang melihat ke atas atap kamarnya, tangannya yang melintang memeluki bantal guling, ia berfikir, apa sebenarnya yang terjadi, apakah ia sakit, apakah ini hanyalah sebuah tanda-tanda seorang anak lelaki yang mau beranjak dewasa.
Rasa itupun terbayang sangat jauh di pikiran dimas, ia memikirkan hal yang negative thinking, perlahan airmatapun itu jatuh mengguyuri pipinya, ia berfikir apakah layak seorang lakilaki itu menangisi hal yang sepele,
“ ya allah beri petunjukmu “  itulah hal yang sering dimas ujur ketika ia mengingat hal itu.
Terpintas kecil, namun berdampak besar bagi dimas.



***
Pagi itu ia pun melangkahkan kaki pertama nya dengan senyum yang lebar, seragam yang rapi, dengan wajah yang agak lumayan pucat , akibat kedinginan, dengan perjalanan yang sangat jauh dari rumah nya, jaket yang biasanya ia kenakan, entah mengapa hari ini lupa ia kenakan.
“ yaa ampuun.. hariini kan aku piket kelas” ujur dimas
Dengan tergesa gesa pun dimas segera menuju ke kelas, ia pun segera mengambil sapu lantai dan menyapunya.
Di kelas dimas di tegur oleh temannya, mereka mencetus kebiasaan dimas yang akhir akhir ini suka memegang tisu kapan, dan kemanapun ia pergi..
Entah apa, yang terpikir di benak dimas ia,langsung meletakkan sapu itu dan keluar dari kelas,
Ia malu, kenapa ia harus begitu, ia pun berfikit “ apakah ini semua cobaan darimu yaa allah “
Teman temannya berfikir kaualu ia itu banci, sebab kebiasaan seperti itu kebanyakan wanita yang sering melakukan hal itu.
***
Siang itu di kamar nya yang gelap gulita tabir yang berhembus sepoy sepoy, langit yang meredup, seredup hatinya yang masih teringat kata kata sewaktu di skeolah tadi, matanya nya pun melihat ubin atap rumah nya, dan menghitungnya, ia selalu berdo’a kapan hal ini terungkap, apa yang ia derita tak pernah ia terfikir apa penyebab nya.
Dimas berjalan perlahan, pipinyapun basah, dan mengeluh dengan ibunya, ia bercerita apa yang ia rasakan, apa yang ia keluhkan, ibunya tertawa.
“hahahaha, itu namanya kamu sudah besar anakku dimas” tegah ibu
“ tapi bu, ini sangat berlebihan, dimas takutnya ini menjadi penyakit yang mengganggu pikiran dimas, atupun  yang lainnya “ tersedu-sedu menangis mengeluh
“ ya sudah kalo begitu, nanti kalo ibu punya uang kita berobat yah.. nak “ ujur ibu
Hujan deras mengiringi rumah lakilaki muda itu, berdiri tegak di depan jendela, dan melihat tetesan air hujan, merenung sepi, apa yang terjadi di kemudian kelak, apakah semua yang di derita itu akan selamanya ada. “ tuhan lindungi aku “
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar