***
Tiga hari telah
berlalu, dan dimaspun melakukan aktivitas SMP nya dengan hikmat, tidak ada
permasalahan yang ia rasakan, hanya satu penghambatnya yaitu, masih belum bias
bergaul dengan banyak orang karena kesehariannya yang cenderung sangan lugu.
Dimas duduk dibangku
kelas 7A , katanyasih itu kelas unggul, dimana isinya anak-anak yang pintar dan
memiliki kapasitas kemampuan otak, yang berbeda di antara anak anak lain, cukup
menarik tapi bagaimana dengan dimas, apakah ia mampu menjalani semuaitu. Ya
jalani saja sampai ujian semester gasal dimulai J
Sepulang sekolah dimas,
di jemput oleh kakak nya raka,ia setiap ppulang sekolah pasti selalu ribut di
jalan, hingga pernah dimas di tinggalkan di pinggiran trotoar, karna hal
sepele.
Raka dan dimas memang
tidak pernah akur, walaupun mereka di rumah tinggal dalam satu kamar, makan
bersama, minum,mandi bahkan hidup bersama di dalam satu rumah.
Mungkin memang hokum
alamnya tidak di nobatkan untuk akur, tapi ya sudahlah itu hanyalah, keragaman
jenis akhlak dan watak seseorang.
Tidak ada yang bias
menilai kalau bukan oranglain, kita menyadari sendiri itu jarang ada dan
berhasil, apalagi anak zaman sekarang.
***
Tibalah semester gasal,
dimana kemampuan anak anak mulai di uji, dimas pun mulai sibuk untuk belajar
karena dia tidak mau mengecewakan ibu dan kakak nya.
Ayah dua beradik ini
sudah lama meninggal dunia, ayahanda meninggal dunia di karenakan sakit berat,
ibu nya pun selalu menyemangatkan kedua anaknya agar mereka tidak merendah
dengan teman teman nya,
Pagi itu pun tiba dan
saatnya pertempuran itu dimulai, raka dan dimas saling menyemangati satu sama
lain, kakak nya mengikuti ujian juga di universitas nya J
Ujian hari pertama
dimulai dengan mate plajaran MATEMATIKA DAN IPA dimas sangat gugup untuk
mengisi soal soal yang ada di lembaran putih melintang , walaupun hanya 3
lembar, kertas itu sangat menguji kemampuan siswa.
Di detik detik terakhir
dimas masih belum menyelesaikan sebanyak 5 soal dan dengan terpaksa dimaspun
menyontek teman yang ada di belakang tempat ia duduk,
“ ssttsss..” dimas membisik
“ hah.. iya ada apa
mas? “ ujur temannya membisik
“ nomor 10, 15,17,27,19
apa hehe? “ dimaspun memasang muka cemas tapi sambil memperlihatkan senyumannya
yang manis itu
“ ADBCA , itu mas jawabannya “ sang teman pun
memberikan jawaban itu secara membisik
Teeett..teeet.. bel pun
berbunyi, dimas segera mengumpulkan lembar jawaban nya bismillahirrohmanirohim semoga hasilnya memuaskan (hatinya
berbisik) dengan tampang yang pucat tangan yang bergetar dan telapak tangannya
pun penuh dengan keringat.
***
Hariini mateplajaran
yang di uji yaitu bahasa Indonesia dan IPS, untuk hari kedua ini dimas berharap
taklah sesulit yang telah berlalu, ia sangat ingin memiliki ketenangan namun
semenjak ia duduk di bangku SMP ini , ia cenderung sangat mudah terkena
penyakit, entah itu magh,flu, demam atau semacamnya, nah di ujiannya yang kedua
ini ia sangat gelisah dengan timbulnya keringat yang sangat berlebihan di
telapak tangannya.
Haripun berlalu
Malam itu dimas tidak
tidur bersama kakak nya yaitu raka, kakak nya menjalankan KKN untuk memenuhi
persyaratan sebelum memegang toga nantinya.
Dimas sejenak merenung,
matanya yang melihat ke atas atap kamarnya, tangannya yang melintang memeluki
bantal guling, ia berfikir, apa sebenarnya yang terjadi, apakah ia sakit,
apakah ini hanyalah sebuah tanda-tanda seorang anak lelaki yang mau beranjak
dewasa.
Rasa itupun terbayang
sangat jauh di pikiran dimas, ia memikirkan hal yang negative thinking,
perlahan airmatapun itu jatuh mengguyuri pipinya, ia berfikir apakah layak
seorang lakilaki itu menangisi hal yang sepele,
“ ya allah beri
petunjukmu “ itulah hal yang sering
dimas ujur ketika ia mengingat hal itu.
Terpintas kecil, namun
berdampak besar bagi dimas.
***
Pagi itu ia pun
melangkahkan kaki pertama nya dengan senyum yang lebar, seragam yang rapi,
dengan wajah yang agak lumayan pucat , akibat kedinginan, dengan perjalanan
yang sangat jauh dari rumah nya, jaket yang biasanya ia kenakan, entah mengapa
hari ini lupa ia kenakan.
“ yaa ampuun.. hariini
kan aku piket kelas” ujur dimas
Dengan tergesa gesa pun
dimas segera menuju ke kelas, ia pun segera mengambil sapu lantai dan
menyapunya.
Di kelas dimas di tegur
oleh temannya, mereka mencetus kebiasaan dimas yang akhir akhir ini suka
memegang tisu kapan, dan kemanapun ia pergi..
Entah apa, yang terpikir
di benak dimas ia,langsung meletakkan sapu itu dan keluar dari kelas,
Ia malu, kenapa ia
harus begitu, ia pun berfikit “ apakah
ini semua cobaan darimu yaa allah “
Teman temannya berfikir
kaualu ia itu banci, sebab kebiasaan seperti itu kebanyakan wanita yang sering
melakukan hal itu.
***
Siang itu di kamar nya
yang gelap gulita tabir yang berhembus sepoy sepoy, langit yang meredup,
seredup hatinya yang masih teringat kata kata sewaktu di skeolah tadi, matanya
nya pun melihat ubin atap rumah nya, dan menghitungnya, ia selalu berdo’a kapan
hal ini terungkap, apa yang ia derita tak pernah ia terfikir apa penyebab nya.
Dimas berjalan
perlahan, pipinyapun basah, dan mengeluh dengan ibunya, ia bercerita apa yang
ia rasakan, apa yang ia keluhkan, ibunya tertawa.
“hahahaha, itu namanya
kamu sudah besar anakku dimas” tegah ibu
“ tapi bu, ini sangat
berlebihan, dimas takutnya ini menjadi penyakit yang mengganggu pikiran dimas,
atupun yang lainnya “ tersedu-sedu
menangis mengeluh
“ ya sudah kalo begitu,
nanti kalo ibu punya uang kita berobat yah.. nak “ ujur ibu
Hujan deras mengiringi
rumah lakilaki muda itu, berdiri tegak di depan jendela, dan melihat tetesan
air hujan, merenung sepi, apa yang terjadi di kemudian kelak, apakah semua yang
di derita itu akan selamanya ada. “ tuhan
lindungi aku “
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar