MOS !
Teeeeett.. teeeeett..
bel sekolah pun berbunyi awal DIMAS duduk di bangku
sekolah menengah pertama, pagi itu ia belum mendapatkan kelas dimana ia akan
memulai hari pertama nya sekolah.
Seperti rutinitas
setiap sekolah, dimana ada Masa Orientasi Siswa, dimas adalah seorang anak yang
lugu, tidak tahu apa apa tentang cangginya dunia, ya.. namanya anak baru
beranjak dewasa, suara saja belum berubah, apalagi mau mengenal yang bukan
sebaiknya ia ketahui di umurnya sekarang.
setelah dimas mendapatkan kelas yang cocok
untuknya, datanglah dua orang kakak senior yang memasang tampang killer.
“ dik, mohon
perhatiannya sebentar, masuk semuanya ke kelas.. ! ” ujur kakak senior pertama,
dan junior pun mulai masuk ke kelas, dan duduk di bangku masing-masing , begitu
pula dengan dimas, kakak-kakak senior itupun mulai memberikan instruksi apa apa
saja yang harus mereka bawa untuk besok.
Sepulang dari sekolah,
dimas pun mengajak kakak nya yang bernama RAKA untuk membeli peralatan untuk
MOS nya besok, raka merupakan sosok kakak yang
baik, tapi terkadang ia juga sering mengganggu adiknya dimas, ya..
maklumi saja namanya juga adik dan kakak, pasti banyak kurang dan lebihnya.
Sesampainya di
supermarket, dua bersaudara itupun memilih dan memilah apa saja yang di perlukan,
dengan bantuan sang kakak, dimaspun
merasa sangat di perdulikan dengan kakak raka, dimas berkata
“ kak, saya mau kesana
membeli kaos kaki hitam dan putih dulu ya”
“iya dik..”
Dimas pun sibuk memilih
kaos kaki yang ia butuhkan, tiba-tiba dimas tidak sengaja menyenggol salah satu
barang mahal yang ada di supermarket tersebut dan bunyinyapun sangat kencang.
Sehingga seluruh mata tertuju pada asal suara itu.
Kak raka pun segera
menyusuri asal suara itu, tidak di sangka ternyata suara itu berasal dari adiknya sendiri, betapa malunya raka, dan
akhirnya raka pun mengganti barang-barang tersebut.
Sesampainya dirumah.
“ dimas, lain kali kalo
mau memilih barang itu hati-hati jangan asal, rugi besarkan kita, salah kamu
jika kamu esok di hukum, karena barang-barang mu di tunda untuk dibeli “ dengan
nada marah pun kak raka duduk dan menghela nafas panjang
“iya kak, ma’af sudah
membuat kakak malu tadi di supermarket “ dengan wajah murung, rakapun menyesali
perbuatannya.
“iya, tak apa, lain
kali lebih hati-hati ya dik “ ujur kak raka
***
07:00
dan ibu pun mengetok
pintu kamar dimas “Dimaasss… dimaasss… bangun nak, sudah pagi kamu mau
berangkat sekolah tidak “
dimaspun tergesah gesah
mengambil handuk, dan ibupun memberesi pakaian yang akan ia kenakan nantinya.
“ ibu saya pergi dulu,
assalamu’alaikum “ tegas dimas buruburu
“ iya hati-hati ya nak
“
Sesampai di sekolah
dimaspun merasa lain di antara yang lain, dirinya sendiri yang tidak memakai
kalung yang di rangkai dengan silverqueen, kakak senior pun mulai masuk
kekelas, dan memeriksa apa kekurangan adik adik yang ada di kelas. Serhaya
dimas berfikir dan menyesali perbuatannya, mengapa ia tidak hati hati kemarin,
jadi tidak berbelit seperti ini jadinya. Hatinya menggebu gebu takut di marahi
oleh kakak senior nya.
Dengan alasan yang
tidak memungkinkan, ketika di Tanya dimas pun memberikan alasan itu
“ adik yang di ujung
duduk nomor dua di samping adik yang memakai topi, ayo kedepan” ujur kakak
senior yang memasang wajah killer itu lagi
Lubuk hati dimas pun
mulai dag did dug, ia bingung ingin mengatakan apa setelah berdiri di depan
nanti.
“ ia kak, ada apa”
dimas yang ketakutan
“ siapa namamu? “
“dimas kak “
“tolong kamu pergi ke
kantor ambil lembaran nama siswa baru” perintah kakak senior
“ iya kak, akan saya
ambilkan “ dimaspun tersenyum, dan menghelakan napas panjang, karena tidak jadi
dihukum.
Sesampainya dikantor,
ia pun mengambil lembaran itu, dan memberikannya lagi ke kakak senior.
“ ini kak ” menyerahkan
kertas
“ oh iya terimakasih,
pergilah duduk ketempatmu “ perintah kakak lagi
“ iya kak, terimakasih
kembali “
Nomor absen dimas,
urutan ke sebelas, dimaspun mulai memasang muka pucat di bangku tempat ia
duduk, ia takut ketika namanya dipanggil kakak itu menanyakan perbedaan yang
ada pada dimas, yaitu silverqueen yang melingkar di leher.
Namun kakak senior itu
hanya mengabsen saja, siapa saja yang tidak hadir. Rasa cemas itupun kembali
meredam, dan dimas pun menikmati masa orientasi siswa tersebut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar